السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
والْحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على أله و صحبه و من ولاه، أما بعد

Ma’asyiral musta’mi’in, para pemirsa Bimbingan Islām yang dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah halaqah yang kelima belas (terakhir) dalam pembahasan Kitāb صفة الصوم النبي ﷺ في رمضان – Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān yaitu tentang Sifat Puasa Nabi ﷺ Pada Bulan Ramadhān, karya dua Syaikh yaitu Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid rahimahullāh ta’ala.

Di halaqah kelima belas (terakhir) ini kita akan membahas tentang:

Seputar Hadīts Dhaif (lemah) Yang Banyak Tersebar di Bulan Ramadhān.

Cukup banyak hadīts shahīh dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang menjelaskan keutamaan Ramadhān dan amalan-amalan shalih di dalamnya. Namun banyak pula hadīts-hadīts dhaif seputar keutamaan bulan Ramadhān.

Maka perlu kami paparkan sekilas beberapa hadīts dhaif yang masyhur beredar di masyarakat seputar bulan Ramadhān.

Hadīts dhaif yang paling parah adalah hadīts maudhu (palsu) kemudian hadīts matruk, hadīts dhaif jiddan dan masih banyak hadīts dhaif lainnya.

Dampak negatif dari hadīts dhaif ini cukup besar bagi masyarakat, dan sebagian orang meyakini dan mengamalkan hadīts tersebut dan meyakini bahwa hadīts dhaif tersebut berasal dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam baik berupa sabda atau perbuatan beliau padahal kenyataannya beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak pernah mengamalkan atau mengucapkannya.

Dengan sebab ini maka perlu kita jelaskan (sebagian) hakikat hadīts-hadīts lemah tersebut agar kita waspada terhadap syari’at yang tidak benar dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Diantara hadīts-hadīts dhaif yang cukup masyhur dan sering dibawakan oleh banyak khatib dan penceramah di bulan Ramadhān (di dalam kitāb diberikan empat contoh hadīts).

⑴ Hadīts Pertama.
Diantaranya adalah hadīts yang panjang awal hadīts ini dari Abū Mas’ūd Al-Ghifari radhiyallāhu ‘anhu dan dinisbatkan kepada beliau. Beliau mendengar Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam satu hari ketika awal bulan Ramadhān mengatakan:

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَتِي أَنْ يَكُوْنَ رَمَضَنَا السَّنَّةَ كُلَّهَا، إِنَّ الْجَنَّةَ لَتُزَيَّنَ لِرَمَضَانَ مِنْ رَأْسِ الْحَوْلِ إِلَى الْحَوْلِ
_”Seandainya umatku tahu apa yang terdapat pada bulan Ramadhān niscaya umatku berangan-angan agar setahun seluruhnya adalah bulan Ramadhān.”_

Hadīts ini sering kita dengar, hadīts ini panjang satu halaman.

Kemudian seorang sahabat Khuza’ah ada yang mengatakan: “Wahai nabi Allāh, beritahu kami apa sebabnya dan seterusnya… (panjang)”. Dan hadīts ini ternyata hadīts palsu (maudhu’) tidak benar dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Hadīts ini keluarkan oleh Imam Abu Ya’la di dalam Musnad-nya sebagaimana pada Al-Muthalibul ‘Aaliyah, kemudian dikeluarkan juga oleh Imam As Sazi dalam Musnadnya dan Imam Khuzaimah dalam Shahīhnya, Imam Al-Ashbahāni dalam At Targhib wa At Tarhib, Imam Abid Dunya dalam Fadhailu Ramadhān, Imam Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman akhirnya dimasukan oleh Ibnul Jauzi dalam Al Maudhu’at kumpulan hadīts-hadīts maudhu’ (palsu) dengan jalur dan sanad sampai Abū Mas’ūd Al-Ghifari radhiyallāhu ‘anhu.

Jadi hadīts ini adalah hadīts palsu dan yang menyebabkan hadīts ini dihukumi palsu karena di dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama Jarīr Ayyub bin Abī Jur’ah bin Amr bin Jarīr Al-Bajali Al-Qufi seorang perawi hadīts yang dihukumi oleh para ulama hadīts sebagai mungkaru hadīts yaitu hadīts yang mungkar atau dhaiful hadīts bahkan wadha pemalsu hadīts Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Sehingga hadīts ini di dhaifkan atau dihukumi palsu oleh Imam Ibnul Jauzi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani dan para ulama lainnya.

⑵ Hadīts Kedua.
Hadīts yang banyak tersebar dan sering kita dengar yaitu:

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللَّهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً وَقِيَامَ لَيْلَةٍ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ …. وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِّنَ النَّارِ
_”Wahai manusia, sungguh bulan yang agung telah datang (menaungi) kalian, bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, Allāh menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan shalat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada bulan tersebut dengan (mengharapkan) suatu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan perkara yang wajib pada bulan yang lain ….”_
وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِّنَ النَّارِ
_”Inilah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka .…”_ sampai selesai.

Hadīts ini juga panjang, diriwayatkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah dan Imam dan Al-Ashbahāni dalam At-Targhib dan yang lainnya Hadīts ini sanadnya Dhaif, karena terdapat perawi yang bernama Ali bin Zaid, dihukumi oleh para ulama ضعف ولا يحتجبه

Imam Ahmad mengatakan:
ليس بالقوي
_”Orang ini tidak kuat.”_

Ibnu Ma’in mengatakan, “Dhaif”.
Dan masih banyak yang menghukumi bahwa hadīts ini Dhaif tidak benar dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Hadīts ini juga diriwayatkan dari Abū Hurairah dari sahabat yang lain. Kalau yang sebelumnya dari sahabat Salman Al Farizi. Ini hadīts serupa bunyinya:

أَوَّلُهُ شهر رمضان رَحْمَةٌ، وَوَسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِّنَ النَّارِ
_”Permulaan bulan Ramadhān adalah rahmat (kasih sayang Allāh) pertengahan nya adalah maghfirah (ampunan Allāh) dan akhir Ramadhān adalah pembebasan dari api neraka.”_

Hadīts ini dihukumi oleh para ulama Dhaifun Jiddan (lemah sekali) bahkan mungkar. Dan dijelaskan secara terperinci oleh Imam Al-Albanīy di dalam kitābnya Silsilatul Hadīts Dhaifun Maudhu’ah.

⑶ Hadīts Ketiga.
صُوْمُوْا تَصِحُّوْا
_”Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.”_

Tidak sak lagi makna hadīts ini benar. Tapi hadīts dengan lafadz ini dihukumi oleh para ulama hadīts adalah hadīts dhaif.

Didhaifkan oleh Imam Al Hiraki di dalam Takhrijul Ihya dan Imam Al Albanīy di dalam Silsilah Ad-Dhaifah.

⑷ Hadīts keempat.
مَنْ أَفطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلاَ مَرَضٍ لَمْ يَقْضِهِ صَوْمُ الدَّهْرِ وَإِنْ صَامَهُ
_”Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhān tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh.”_
Hadīts ini dhaif dikeluarkan oleh Imam Abū Dawud, Imam At-Tirmidzī, Imam An-Nassā’i dan yang lainnya dan dijelaskan oleh Imam Al-Albanīy bahwa hadīts ini dhaif di dalam kitāb nya Tamāmul Minah Fī At Ta’līq Alā Fiqh As Sunnah.

Dan memang Imam Al-Bukhāri telah mengisyaratkan dalam shahīhnya sebelum hadīts ke-1935 dengan perkataannya yudzkar. Hadīts ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhāri secara mu’allaq dan dengan perkataan يذكر
(telah disebutkan).

Dan shighat seperti ini dalam musthalah hadīts disebut tamrid yaitu konteks yang sifatnya untuk melemahkan suatu riwayat.

Dan dilemahkan oleh Imam Khuzaimah, Imam Al-Mundziri dan Imam Al-Baghawi, Imam Al-Qurthubi, Imam Adz Dzahabi dan yang lainnya.

Dan hadīts ini mengandung tiga kelemahan (tiga penyakit) yaitu :

① Al Idhthirah, kegoncangan pada sanad.
② Al Jahalah, ketidak jelaskan pada salah satu periwayatnya.
③ Al Inqitha, terputusnya sabda hadīts ini.

Inilah sebagian hadīts yang banyak tersebar di bulan Ramadhān.

Dikatakan, _”Seandainya hamba-hambaku tahu keutamaan bulan Ramadhān pasti mereka akan berangan-angan semua bulan dalam setahun adalah Ramadhān,”_ ini kan tidak benar, capek orang setiap hari berpuasa selama setahun dan ini menyelisihi hikmah. Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mensyari’atkan shaum dalam setahun hanya satu bulan saja.

Juga hadīts, _”Ramadhān itu awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka,”_ tidak sak lagi semua ada di dalam bulan Ramadhān tetapi menyatakan awalnya ini, tengahnya ini dan akhirnya ini, ini tidak benar dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Juga hadīts, _”Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat, “_ makna hadīts ini benar tetapi bukan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Hadīts yang terakhir, _”Barangsiapa yang berbuka puasa satu hari pada bulan Ramadhān tanpa ada sebab dan tidak pula karena sakit maka puasa satu tahun pun tidak akan dapat mencukupinya walaupun ia berpuasa pada satu tahun penuh, “_ ini juga hadīts dhaif.

Wallāhu a’lam bishawab.

صلى الله على النبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SUMBER:
BimbinganIslam.com
Jum’at, 11 Ramadhān 1442 H/ 23 April 2021 M
Ustadz Arief Budiman, Lc
Kitāb Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān
Halaqah 15 : Beberapa Hadīts Dhaif Yang Sering Disampaikan Di Bulan Ramadhān
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021
EUROMOSLIM-AMSTERDAM
Indonesisch-Nederlandsche Moslim Gemeenschap–Amsterdam
Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam, 23 april 2021 / 11 ramadhan 1442
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:
E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org