السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
والْحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على أله و صحبه و من ولاه، ولا حول ولا قوة الا بالله، أما بعد

Ma’asyiral musta’mi’in, para pemirsa Bimbingan Islām yang senantiasa dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah halaqah yang kesepuluh dalam pembahasan Kitāb صفة الصوم النبي ﷺ في رمضان – Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān yaitu tentang Sifat Puasa Nabi ﷺ Pada Bulan Ramadhān, karya dua Syaikh yaitu Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid rahimahullāh ta’ala.

Di halaqah kesepuluh ini kita akan membahas tentang:

Berbuka Puasa (الإفطار).

Kita pahami bahwa waktu berbuka adalah ketika matahari sudah benar-benar terbenam (datang waktu maghrib).
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
_Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam.”_
(QS. Al Baqarah: 187)

Sampai malam disini maksudnya sampai betul-betul masuk waktu malam yaitu dengan terbenamnya matahari (datang waktu maghrib).

Ada satu hadīts dari Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ta’ala ‘anhu dalam Shahīh Bukhāri dan Muslim.
Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِذَا أقْبَلَ اللَّيْلُ مِن هَا هُنَا، وأَدْبَرَ النَّهَارُ مِن هَا هُنَا، وغَرَبَتِ الشَّمْسُ فقَدْ أفْطَرَ الصَّائِمُ
_”Apabila malam telah datang dari sini dan siang telah mundur dari sini artinya waktu maghrib telah datang dan waktu siang telah hilang dan matahari telah terbenam maka telah datang waktu berbuka bagi orang yang berpuasa.”_

Dan disunnahkan bagi kaum muslimin untuk menyegerakan berbuka puasa. Berdasarkan beberapa hadīts berikut:

Dari Sahl bin Sa’ad As Saidi radhiyallāhu ‘anhu dalam Shahīh Al Bukhāri dan Muslim, beliau berkata Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
_”Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”_
(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 1957 dan Muslim nomor 1098).

Hadīts ini menunjukkan bahwa kaum muslimin kalau ingin kondisi atau keadaannya baik, agamanya dan lainnya baik, maka diantara salah satu penyebabnya adalah menyegerakan berbuka puasa.

Dan ini bentuk menyelisihi puasanya orang-orang Yahudi dan Nashrani, karena mereka berbuka puasa kalau betul-betul sudah melihat bintang di langit (hampir waktunya Isya).

Dalam hadīts lain.
Dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لاَيَزَالُ الدِّيْنُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ، لِأَنَّ الْيَهُوْدَ وَ النَّصَارَى يُؤَخِرُوْنَ
_”Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya.”_
(Hadīts shahīh riwayat Abū Dawud, Musnad Imam Ahmad dan yang lainnya).

Mereka (Yahudi dan Nashrani) kebalikan dari kaum muslimin, mereka mengakhirkan ketika berbuka sedangkan kaum muslimin mengakhirkan waktu sahur dan mengawalkan waktu berbuka.

Selama masih menyegerakan berbuka maka biidznillāh kaum muslimin akan baik dan itu yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat juga para Salafus Shalih.

Ada satu atsar dalam Mushannaf Abdurrazaq dengan sanad shahīh. Dari Amr bin Maimun Al-Audi rahimahullāh (salah satu tabi’in).

Beliau mengatakan:
كان أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم أسرع الناس أفطارا و أبطاهم سحورا
_”Para sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam adalah orang-orang yang menyegerakan ifthar (apabila sudah waktunya) dan mereka orang yang paling lambat ketika sahur (sahur mendekati waktu shubuh).”_

Kita dapati fenomena yang terjadi pada kaum muslimin, kebanyakan orang-orang awam dari kaum muslimin mereka jam 01.00 atau jam 02.00 sudah makan sahur sehingga mereka cepat lapar kembali dan ini menyelisihi sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat.

Kita dapati juga mungkin sebagian dari mereka ada yang menunda-nunda ifthar, ini juga menyelisihi sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan para sahabat radhiyallāhu ‘anhum.

Tadi sudah disebutkan dalam hadīts bahwasanya orang yang suka menunda-nunda ifthar adalah Yahudi dan Nashrani dan ternyata ini dilakukan juga oleh orang-orang syi’ah atau rāfidhah. Mereka baru berbuka puasa (ifthar) ketika muncul bintang-bintang di langit artinya sudah malam sekali (menjelang waktu Isya’ atau lebih).

Semoga kaum muslimin dijauhkan dari sifat-sifat Yahudi, Nashrani dan Rāfidhah ini.

Kemudian pemirsa BiAS rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Berbuka Puasa Sebelum Shalat Maghrib.
Pernah suatu saat di zaman sahabat terjadi diskusi antara seorang tabi’in yang bernama Masruq dengan ummu al-mukminin Aisyah radhiyallāhu ta’ala ‘anhā.

Matruq bertanya kepada Aisyah radhiyallāhu ‘anhā:

يا أمَّ المؤمنينَ، رجلانِ من أصحابِ محمَّدٍ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ أحدُهُما ويعجِّلُ الإفطارَ يعجِّلُ الصَّلاةَ والآخرُ يؤخِّرُالإفطارَ والآخرُ الصَّلاةَ
_”Wahai Ummu Al-Mukminin, ada dua orang sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang pernah saya ketahui, salah satu dari mereka ketika datang waktu maghrib dia menyegerakan ifthar kemudian shalat dan yang satunya menunda ifhtar dan menunda shalat.”_

Maka Aisyah radhiyallāhu ‘anhā bertanya:

أيُّهم الذين ويعجِّلُالإفطارَ ويعجِّلُالصَّلاةَ؟
_”Siapa diantara mereka yang menyegerakan ifthar dan menyegerakan shalat?.”_

Kami pun mengatakan, “Abdullāh bin Mas’ūd”
Kemudian Aisyah radhiyallāhu ‘anhā berkata:

كذلِكَ كانَ تصنع رسولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ
_”Itulah yang dilakukan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.”_

⇒ Artinya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam makan ifthar dulu baru shalat maghrib.

Jadi Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam jika betul-betul sudah masuk waktu maghrib beliau segera mengerjakan ifthar kemudian beliau shalat (tidak menunda-nunda ifthar kemudian shalat).

Juga atsar lain, dari Abū Darda radhiyallāhu ‘anhu di dalam riwayat Ath Thabrani di dalam Al Mujam Al Kabir dan dihukumi mauquf tetapi memiliki hukum marfu sampai kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Beliau mengatakan:

ثلاث من أخلاق النبوة: تعجيل الإفطار، وتأخير السحور، ووضع اليمين على الشمال في الصلاة
_”Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi : menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat.”_

Kemudian para pemirsa rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Apa Yang Dimakan Ketika Berbuka?
Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sahur dengan apa?

Tadi sudah dijelaskan beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam ketika sahur beliau makan tamr (kurma yang masak) adapun ketika ifthar beliau berbuka dengan ruthab (kurma segar).

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
_Sebagaimana satu riwayat dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, beliau ifthar dengan beberapa butir ruthab (tahapan kurma sebelum menjadi tamr) yaitu kurma yang sudah masak sebagian dan sebagian lainnya masih segar. Jika tidak mendapatkan ruthab beliau berbuka dengan beberapa butir kurma._

Ini menunjukkan ada perbedaan antara kurma jenis ruthab dan jenis tamr.

Jika beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak menemukan ruthab atau tamr beliau meminum beberapa teguk air (air putih), inilah sunnahnya, jadi jangan makan makanan lain dulu jika memang mendapatkan ruthab, tamr atau air putih.

Banyak Berdo’a Ketika Ifthar.
Kemudian juga banyak berdo’a ketika menjelang ifthar atau ketika ifthar karena Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda sebagaimana hadīts shahīh dalam Sunnan Al Kubra karya Imam Al Baihaqi dan hadīts ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albanīy rahimahullāhu.

Dari Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَتُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
_”Tiga do’a yang tidak ditolak ; do’a orang tua terhadap anaknya ; do’a orang yang sedang berpuasa dan do’a seorang musafir.”_
(Sunan Baihaqi, kitab shalat Istisqa bab Istihbab Siyam Lil Istisqa’ 3/345. Dishahīhkan oleh Al-Albanīy dalam Silsilah Shahīhah Nomor 1797).

Ada hadīts hasan yang menjelaskan do’a ketika berbuka puasa yaitu:

ذَهَبَ الظّـَمَأُ وَابْتَلّـَتِ الْعُرُوقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
_”Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allāh menghendaki.”_
(Hadīts hasan riwayat Abū Daud nomor 2357, An-Nassā’i dalam As Sunan Al-Kubra nomor 3315 dan selainnya. Lihat Irwaul Ghalil nomor 920).

Hadīts ini paling baik derajatnya yaitu hasan. Adapun hadīts yang masyhur yang beredar di masyarakat,

اللهم لك صمت و بك أمنت و على رزقك أفطرت برحمتك يا ارحم الراحمين
_”Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa, dan kepada-Mu aku beriman, dengan rizqi-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, wahai Dzat yang Maha Penyayang.”_

Hadīts ini diriwayatkan dari beberapa sahabat diantaranya dari Mu’adz bin Zuhrah beliau adalah seorang tabi’in. Namun derajat hadīts ini mursal (dhaif) karena Mu’adz bin Zurhah tidak bertemu dengan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Kemudian riwayat dari Anas bin Mālik hadīts ini juga dhaif, begitu pula hadīts dari Ibnu Abbās hadīts ini juga dhaif. Dijelaskan oleh para ulama bahkan di dalam sanadnya ada perawi yang matruk ditinggalkan hadītsnya sehingga derajat hadītsnya dhaifun jiddan. Dan tentunya hadīts yang lemah sekali tidak bisa diamalkan.

Memberi Makan Kepada Orang-orang Yang Berpuasa.
Sebagaimana hadīts dari Zaid bin Juhni radhiyallāhu ‘anhu Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِِشْل أَجْره غَيْر أَنَّهُ لاَ يُنْقص مِن أجر الصَّا ئِم شَيْئًا
_“Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya sedikitpun. “_
(Hadīts shahīh riwayat Ahmad (4/144,115,116, 5/192) At Tirmidzī (804), Ibnu Majah (1746), Ibnu Hibban (895), dishahihkan oleh At Tirmidzī)

Dan orang yang diundang untuk berbuka puasa hendaknya dia juga mendo’akan orang yang telah mengundang atau orang yang telah memberikan makanan.

Dan banyak do’a-do’a ketika kita diberi makan secara umum atau diberi makan (ifthar) secara khusus.
Di antaranya adalah do’a Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

أَكَلَ طَعَامَكُمُ الأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ اْلملاَئِكَةُ، وَأفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُونَ
_“Telah makan makanan kalian orang-orang bajik, dan para malaikat bershalawat (mendo’akan kebaikan) atas kalian, orang-orang yang berpuasa telah berbuka di sisi kalian.”_
(Hadīts riwayat Abi Syaibah (3/100), Ahmad (3/118), An Nassā’i dalam ‘Amalul Yaum” (268), Ibnu Sunni (129), Abdur Razak (4/311) dari berbagai jalan darinya, sanadnya shahīh).

Do’a yang lain :

اَللَّهُمَّ اَطْعِمْ مَنْ اَطْعَمَنِيْ وَاسْقِ مَنْ سَقَا نِيْ
_“Ya Allāh, berilah makan orang yang memberiku makan dan berilah minum orang yang memberiku minum.”_ (Hadīts riwayat Muslim 2055 dari Miqdad)

Do’a yang lain:

اّللَّهُمَّ اغْفِر لَهُمْ وَارْ حَمْهُمْ وَبَارِكْ ِفمَا رَزَقْتَهُمْ
_”Ya Allāh, ampunilah mereka dan rahmatilah, berilah barakah pada seluruh rizki yang Engkau berikan.”_ (Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 2042 dari Abdullah bin Busrin).

Demikian sekitar berbuka puasa semoga bermanfaat.

صلى الله على النبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SUMBER:
BimbinganIslam.com
Jum’at, 04 Ramadhān 1442 H/ 16 April 2021 M
Ustadz Arief Budiman, Lc
Kitāb Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān
Halaqah 10: Berbuka Puasa
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021
EUROMOSLIM-AMSTERDAM
Indonesisch-Nederlandsche Moslim Gemeenschap–Amsterdam
Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam, 16 april 2021 / 04 ramadhan 1442
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:
E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org