*MUQADDIMAH*
كيف تكون مفتاحاً للخير (Bagaimana Caranya Agar Engkau Menjadi Kunci Kebaikan)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة اما بعد

Teman-teman Bimbingan Islām, rahimaniy wa rahimakumullāh yang semoga selalu di rahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

In syā Allāh, pada pertemuan ini dan beberapa pertemuan selanjutnya kita akan membahas sebuah kitāb yang berasal dari sebuah muhadharah yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr hafizhahullāhu ta’āla.

Sebuah kitāb yang sangat penting, sebuah kitāb yang seharusnya dibaca oleh seorang muslim (seorang yang beriman) agar dia menjadi orang yang penuh keberkahan.

Kitāb tersebut diberikan judul oleh beliau: كيف تكون مفتاحاً للخير (Bagaimana Caranya Agar Engkau Menjadi Kunci Kebaikan), menjadikan orang penyebab kebaikan. Ini adalah judul kitāb yang akan  kita baca.

Dan di sini posisi saya hanya akan menerjemahkan apa yang beliau sampaikan dan apabila nanti ada sesuatu yang penting, nanti akan saya berikan garis bawah atau sesuatu penekanan, sehingga kita bisa lebih  memahami kitāb ini.

Kita akan membaca perkataan beliau yang sudah saya terjemahkan.

Berikut terjemah dari kitāb Syaikh Abdurrazaq Al Badr yang berjudul:

كيف تكون مفتاحاً للخير
Bagaimana Engkau Menjadi Kunci Kebaikan.

Beliau berkata:
Segala puji hanya milik Allāh, kita memuji, memohon pertolongan, dan bertaubat kepada-Nya. Kita juga berlindung kepada Allāh dari keburukan jiwa dan keburukan amalan.

Barangsiapa yang diberika  petunjuk oleh Allāh maka tidak akan ada seorangpun yang dapat menyesatkannya, begitu juga barangsiapa yang dibiarkan sesat oleh Allāh, maka tidak akan ada seorang pun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allāh (Esa), tidak ada sekutu bagi Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasūl Allāh. Semoga shalawat dan salam, selalu tercurahkan kepada keluarganya dan seluruh sahabatnya. Amma ba’du.

Imam Ibnu Mājah dalam kitāb Sunnan beliau, begitu juga Ibnu Abī Ashim dalam kitāb As Sunnah beliau, begitu juga imam-imam selain keduanya telah meriwayatkan sebuah hadīts dari shahabat Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda, (perhatikan! Ini hadīts penting) yang akan menjadi dasar pondasi kitāb ini:

“Sungguh diantara manusia ada orang-orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan. Begitu juga sebaliknya diantara manusia ada orang-orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan. Maka tubā (alangkah beruntungnya) orang-orang yang Allāh jadikan kunci kebaikan berada ditangannya dan alangkah celakanya orang-orang yang Allāh jadikan kunci keburukan berada ditangannya.”

Sungguh hadīts ini sangat luar biasa dan di sana ada beberapa hadīts yang serupa dengan hadīts ini. Hadīts-hadīts tersebut dapat menguatkan makna hadīts dari shahabat Anas bin Mālik radhiyallāhu ‘anhu, terkait seorang insan pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu keburukan.

Hadīts-hadīts yang mendukung adalah:

⑴ Sebuah hadīts yang dikeluarkan oleh Imam At Tirmidzī dalam kitāb Sunnan, dari shahabat Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata, Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah melewati beberapa orang yang sedang duduk-duduk, maka Beliau pun berkata:

“Mau kah aku kabarkan kepada kalian tentang orang terbaik dan orang terburuk dari kalian?”
Para shahabat pun terdiam, kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengulang pertanyaannya kembali hingga  tiga kali.
Setelah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengulang pertanyaannya tiga kali, para shahabat pun menjawab:
“Tentu wahai Rasūlullāh, kabarkanlah kepada kami tentang orang terbaik dan orang terjelek dari kami.’
Maka Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan orang-orang merasa aman dari keburukannya. Ada pun orang terburuk kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan orang-orang pun tidak merasa aman dari keburukannya.”
(Ini hadīts pendukung pertama).

⑵ Hadīts yang dikeluarkan oleh Imam Al Bukhāri dalam Shahīh Bukhāri, begitu juga Imam Muslim di dalam kitāb Shahīh Muslim dan selain keduanya. Sebuah hadīts dari sahabat Abū Musa Al Asy’ari radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberikan minyak wanginya secara cuma-cuma kepada anda atau anda akan membeli darinya atau anda akan mendapatkan bau wangi darinya. Adapun pandai besi bisa jadi bajumu akan terbakar karena percikan apinya atau anda akan mendapatkan bau tidak sedap darinya.”
Dan hadīts ini merupakan hadīts yang sudah sangat terkenal.

Setiap muslim pasti sangat ingin menggapai kebahagiaan, keberuntungan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat. Ketika ia mendengar hadīts Anas radhiyallāhu ‘anhu dan hadīts-hadīts yang mendukung, tanpa diragukan lagi pasti hatinya tergerak dan sangat ingin masuk ke dalam golongan orang-orang yang menjadi pembuka pintu kebaikan dan sangat tidak ingin menjadi pembuka pintu-pintu keburukan.

Tidak ragu lagi ini pasti merupakan keinginan setiap muslim. Tidak ada seorang muslim pun yang tidak ingin menjadi pembuka pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan.

Setiap muslim pasti ingin menjadi orang yang mendapatkan at tubā (keberuntungan). Dan pasti sangat tidak ingin menjadi orang yang mendapatkan al wail (kecelakaan) sebagaimana yang disebutkan oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam hadīts Anas yang telah disebutkan.

Al wail artinya adalah hukuman keras, sangat menyakitkan, yang telah Allāh siapkan bagi orang-orang yang menjadi pembuka pintu keburukan dan penutup pintu kebaikan.

Ketika jiwa seorang insan telah berhasrat ingin menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan dan penutup pintu-pintu keburukan maka mau tidak mau ia harus berusaha keras untuk mengusahakan sebab-sebabnya dengan amal nyata.

Hasrat baik ini tidak cukup hanya diangan-angankan namun harus dipahami hakikatnya dengan sebaik-baiknya. Lalu berusaha melaksanakan sebab-sebabnya dengan optimal.

Bersamaan dengan ini semua, ia juga harus bersandar meminta pertolongan dengan extra maksimal kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla, agar Allāh mewujudkan harapan dan cita-citanya ini.

Baik, kita akan segera masuk membahas tema kita.

Tema kita ini berangkat dari satu pertanyaan: Bagaimana caranya menjadi seorang insan pembuka pintu kebaikan?

Jawaban dari soal penting dan soal yang bernilai tinggi ini mencakup banyak hal. Pada kesempatan ini akan saya sebutkan hal-hal penting tersebut satu persatu.

Baik, demikian ini pembukaan (muqaddimah) dari Syaikh Abdurrazaq Al Badr hafizhahullāhu ta’āla dalam Kitāb: كيف تكون مفتاحاً للخير (Bagaimana Engkau Menjadi Seorang Insan Pembuka Pintu Kebaikan).

In syā Allāh akan kita lanjutkan pada pertemuan berikutnya.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawab.
وصلى الله على نبينا محمد
〰〰〰〰〰〰〰
BimbinganIslam.com kitab Kaifa Takuunu
Senin, 26 Jumadil Akhir 1442 H / 08 Februari 2021
Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
Kitāb Kaifa Takuunu Miftaahan Lil Khoir
Halaqoh 01 : Muqoddimah
——————————————————
MEDIA DAKWAH EUROMOSLIM:
Buletin Terbit Setiap Hari Jum’at

Amsterdam, 04-juni-2021 / 23 syawal-1442

Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke: E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org