*KUNCI KEDUA TAUHĪD DAN IKHLAS*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة اما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahimaniy wa rahimakumullāh, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini (in syā Allāh) kita akan membaca kunci kedua yang disebutkan oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr hafizhahullāhu ta’āla dalam Kitāb: كيف تكون مفتاحاً للخير (Bagaimana Langkah Anda Menjadi Seorang Pembuka Kunci Kebaikan).

Kunci Kedua Mentauhīdkan Allāh Dan Mengikhlaskan Ibadah Kepada-Nya.

Ketahuilah! Pintu kebaikan terbesar yang tidak ada duanya adalah mentauhīdkan (meng-Esa-kan) Allāh Azza wa Jalla. Dan mengikhlaskan agama untuk-Nya.

‌Tauhīd adalah kunci seluruh kebaikan.‌Tauhīd adalah kunci surga.

Al Hafizh Al Bazzar rahimahullāh dalam kitāb Musnadnya, meriwayatkan sebuah hadīts dari Mu’ādz bin Jabbal radhiyallāhu ‘anhu bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Kunci surga adalah persaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allāh.”

Keshahīhan sanad hadīts ini, diperbincangkan oleh para ulama, akan tetapi makna yang terkandung di dalam hadīts ini benar dan shahīh tanpa keraguan sedikitpun.

Di sana juga ada hadīts-hadīts pendukung lain dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang sangat banyak namun kita tidak perlu memperpanjang pembicaraan tentang hal ini. Cukup saya sebutkan satu hadīts saja yang paling jelas mendukung hadīts ini.

Hadīts ini (hadīts pendukung) diriwayatkan oleh Imam Muslim dari shahabat Umar bin Khaththāb radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Setiap ada seorang hamba yang berwudhu, lalu dia menyempurnakan wudhu tersebut kemudian membaca do’a, ‘Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allāh dan Muhammad adalah hamba dan rasūl-Nya, maka pasti ke-8 pintu surga akan dibukakan untuknya dan ia boleh masuk dari pintu mana saja yang ia inginkan’.”
(Hadīts shahīh riwayat Muslim nomor 234)

Jadi tauhīd adalah kunci surga, barangsiapa tidak membawa kunci ini, maka ia tidak akan masuk surga. Atas dasar inilah Allāh Ta’āla berfirman tentang orang-orang kafir.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَا تُفَتَّحُ لَهُمۡ أَبۡوَٰبُ ٱلسَّمَآءِ وَلَا يَدۡخُلُونَ ٱلۡجَنَّةَ حَتَّىٰ يَلِجَ ٱلۡجَمَلُ فِي سَمِّ ٱلۡخِيَاطِۚ
“Tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum…”
(QS. Al A’rāf : 40)

Jadi surga itu tidak mungkin dimasuki kecuali dengan Tauhīd.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:

“Surga hanya akan dimasuki oleh jiwa yang beriman.”

Ucapan Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) itulah kalimat tauhīd. Ini adalah kunci surga, sebagaimana telah berlalu penjelasannya. Tetapi perlu diketahui bahwa kunci ini tidak akan berfungsi dan tidak akan membantu seseorang masuk surga kecuali apabila seorang hamba melaksanakan syarat-syaratnya.

Atas dasar inilah Imam Al Bukhāri dalam kitāb Shahīhnya menyebutkan bahwa Wahhab bin Munabih salah seorang ulama tabi’in pernah di tanya. Penanya ini berkata:

“Bukankah Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) adalah kunci surga?”

Wahhab bin Munabih menjawab:

“Iya, tentu tetapi sebuah kunci pasti memiliki gigi-gigi. Apabila engkau datang membawa kunci yang memiliki gigi, maka pintu akan terbuka, namun apabila engkau datang dengan kunci yang tidak bergigi maka pintu tidak akan terbuka.”

Demikian perkataan beliau.

Dari sini Wahhab bin Munabih sedang mengisyaratkan tentang syarat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ), di mana kalimat ini tidak akan dapat membuka pintu surga kecuali apabila syarat-syaratnya yang disebutkan oleh Allāh dalam Al Qur’ān maupun oleh Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam di dalam hadīts hadītsnya, dilaksanakan terlebih dahulu.

Dan syarat kalimat ini ada 7 (tujuh), telah disebutkan dan dijelaskan oleh para ulama dalam Kitāb Tauhīd. Di sini saya tidak akan memperpanjang penjelasan hal ini lagi, tapi syarat kalimat tersebut secara ringkas adalah:

⑴ Ilmu tentang maknanya, ilmu tentang apa yang dinafi’kan dari kalimat tersebut, ilmu tentang apa yang ditetapkan dari kalimat tersebut. Dan lawan dari syarat pertama ini (ilmu) adalah bodoh.

⑵ Yaqin, lawannya adalah ragu.
⑶ Jujur, lawannya dusta.
⑷ Ikhlas, lawannya syirik dan riyā’.
⑸ Cinta, lawannya benci.
⑹ Melaksanakan ketaatan, lawannya meninggalkan ketaatan.
⑺ Menerima sepenuh hati, lawannya adalah menolaknya.

Ketujuh syarat ini dapat diringkas menjadi satu bait syair.

علم يقين وإخلاص وصدقك مع, محبة وانقياد والقبول لها
“Ilmu, yaqin, ikhlas, jujur, dengan cinta ketaatan dan menerimanya.”

Syaikh Al Alāmah Hafizh Al Hakamiy rahimakumullāh dalam Mandzūmat Sullam al Wusūl merangkai syarat-syarat ini dalam bait yang indah. Beliau juga telah menjelaskan syarat-syarat ini dengan penjelasan yang bagus

Dalam kitāb Ma’ārij Al Qabul beliau berkata:

“Dengan tujuh syarat telah diikat,

sungguh dalam Al Qurān telah terdapat pengucapnya

tidak akan mendapat manfaat sampai ia menyempurnakan syarat.
Ilmu yakin menerima dan taat,
pahamilah apa yang ku ucap,
jujur ikhlas dan cinta

semoga Allāh memberimu taufīq pada apa yang Ia cinta.”

Jadi kalimat tauhīd Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) yang menjadi kunci surga ini, wajib dipenuhi syarat-syaratnya bagi orang yang ingin menjadi pembuka pintu kebaikan bagi dirinya maupun pintu kebaikan bagi orang lain.

Ia harus merealisasikan tauhīd mengikhlaskan semuanya untuk Allāh, meniatkan seluruh amal dan ketaatannya untuk wajah Allāh Azza wa Jalla semata.

Ia mendekat kepada Allāh dengan ibadah, ia beribadah kepada Allāh dengan berbuat baik kepada manusia dan dia berbuat baik kepada seluruh muamalahnya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

إِنَّمَا نُطۡعِمُكُمۡ لِوَجۡهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمۡ جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا
“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allāh, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.”
(QS. Al Insān: 9)

Jadi, orang dalam ayat ini, yang beramal dan melaksanakan amal shalih semata-mata hanya ingin pahala dan apa yang dijanjikan oleh Allāh untuk orang-orang yang ikhlas dalam beribadah.

Demikian yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr hafizhahullāhu ta’āla, pada kunci kedua, yaitu: “Mentauhīdkan Allāh dan Mengikhlaskan Ibadah kepadanya”.

Jadi, ketika kita ingin menjadi pembuka kebaikan dan penutup pintu keburukan, tentu niat kita ingin menggapai surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla (mendapatkan apa yang dijanjikan oleh Allāh). Kita tidak ingin terima kasih dari orang-orang, kita hanya ingin Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Jadi dasar ini harus dimiliki oleh orang yang ingin menjadi pembuka pintu kebaikan.

Kemudian bagi orang yang ingin menjadi pintu kebaikan setelah dia mentauhīdkan Allāh, dia harus melaksanakan syarat-syaratnya. Syarat-syaratnya apa, itu dipenuhi semua.

Syarat Lā ilāha illallāh (لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ) harus dipenuhi agar dia menjadi orang yang bisa mendapatkan surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Karena sama saja, dia menjadi pembuka pintu kebaikan untuk orang lain, tetapi dia tidak merealisasikan tauhīdnya sendiri, mungkin dia malah akan terhalangi dari surga Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Inilah kesimpulan yang bisa ditarik dari penjelasan beliau.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawab, semoga bermanfaat.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
〰〰〰〰〰〰〰
BimbinganIslam.com
Rabu, 28 Jumadil Akhir 1442 H / 10 Februari 2021 M
Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
Kitāb Kaifa Takuunu Miftaahan Lil Khoir
Halaqoh 03: Kunci Kedua Tauhid dan Ikhlas
———————————————————-​
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH EUROMOSLIM: Buletin Terbit Setiap Hari Jum’at
EUROMOSLIM-AMSTERDAM
Indonesisch-Nederlandsche Moslim Gemeenschap–Amsterdam
Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam, 18 juni 2021 / 08 dhulqa’dah 1442
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:
E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org