*KUNCI KEDELAPAN: LEMAH LEMBUT DAN BERAKHLAQ MULIA DENGAN SELURUH MANUSIA*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم القيامة اما بعد

Sahabat Bimbingan Islām, rahimaniy wa rahimakumullāh, yang semoga selalu dirahmati oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Pada kesempatan kali ini (in syā Allāh) kita akan melanjutkan membaca Kitāb: كيف تكون مفتاحاً للخير (Bagaimana Anda Menjadi Pembuka Pintu Kebaikan) yang disampaikan oleh Syaikh Abdurrazaq Al Badr hafizhahullāhu ta’āla.

Pada kesempatan kali ini kita sudah berada di kunci atau langkah kedelapan yang beliau sebutkan.

LANGKAH KEDELAPAN: LEMAH LEMBUT DAN BERAKHLAQ MULIA DENGAN SELURUH MANUSIA.

Beliau mengatakan diantara hal yang dapat menjadikan seorang insan menggapai predikat pembuka pintu kebaikan adalah lemah lembut dalam setiap permasalahan dan memperlakukan manusia dengan akhlak mulia.

Ini adalah salah satu kunci penting yang dapat menjadikan anda meriah predikat sebagai pembuka pintu kebaikan.

Saudaraku, yakinlah bahwa orang yang memperlakukan orang lain dengan buruk, orang yang berakhlak keras kepada orang lain, tidak akan menjadi pembuka hati manusia.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla pernah berfirman tentang nabi yang menjadi pemimpin manusia yaitu Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

فَبِمَا رَحۡمَةٖ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمۡۖ وَلَوۡ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلۡقَلۡبِ لَٱنفَضُّواْ مِنۡ حَوۡلِكَۖ
_”Berkat rahmat Allāh, engkau wahai Muhammad, berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.”_ (QS. Āli Imrān: 159)

Jiwa akan lari dari sikap kasar, jiwa akan lari sikap keras, jiwa akan lari dari sikap kejam, jiwa akan lari dari akhlak yang buruk.

Kaidah ini tetap berlaku walaupun yang disampaikan adalah kebaikan.

Hal ini karena sikap yang keras, tindakan yang buruk, cara yang kasar membuat manusia lari darinya. Sehingga seorang insan ketika ingin menjadi pembuka pintu kebaikan ia harus memperlakukan manusia dengan lembut.

Ia berbicara dengan mereka dengan sopan dan tenang. Berbicara dengan rendah hati tidak meninggikan diri sendiri, tidak sombong, tidak congkak.

Apabila saya sebutkan contoh tentang hal ini dari sunnah Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang banyak itu, tentu buku ini akan menjadi panjang. Tapi akan saya sebutkan satu contoh yang sangat luar biasa dan sangat menakjubkan ketika Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam masuk ke Mekkah pada peristiwa Fathu Mekkah. Posisi Beliau saat itu adalah sebagai penakluk (penguasa).

Beliau mendatangi sebuah kota yang dahulu penduduknya sangat keras siksaannya kepada Beliau. Saat itu (setelah penaklukan selesai) Abū Bakar Ash Shidiq radhiyallāhu ‘anhu datang menggandeng tangan ayahnya yang belum masuk Islām menemui Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Rambut, jenggot dan alis ayah beliau sudah putih (sudah lanjut usia) Abū Bakar Ash Shidiq radhiyallāhu ‘anhu membawa beliau kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Anda tahu apa yang dikatakan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallāhu ‘anhu?

Apa kata Nabi kepada Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallāhu ‘anhu?

هلَّا تركتَ الشيخ في بيته حتى أكون أنا آتيه فيه؟!
_”Kenapa kamu tidak biarkan kakek ini tetap tinggal di rumahnya saja, biar aku yang mendatangi beliau?”_

Kenapa kakek ini tidak dibiarkan duduk saja , tidak usah dibawa ke sini, biar saya yang ke sana mendatangi Beliau?

Inilah akhlak yang sangat tinggi, akhlak yang sangat mulia dari seorang penakluk yang baru saja memasuki kota Mekkah, sebuah kota di mana Beliau pernah disiksa dengan sangat pedih di sana.

Maka saat itupun Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam meletakkan tangan Beliau pada dada ayah Abū Bakar Ash Shidiq radhiyallāhu ‘anhu. Lalu beliau berkata, “Apakah anda bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk disembah selain Allāh dan saya adalah utusan Allāh?”

Ayah Abū bakar pun menjawab, “Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allāh dan anda adalah utusan Allāh.”

*Contoh lain:*

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam juga pernah meletakkan tangan Beliau pada pundak salah seorang shahabat junior yang masih sangat muda (Mu’ādz bin Jabbal radhiyallāhu ‘anhu).

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata kepada Mu’ādz, “Sungguh aku mencintaimu, jangan pernah tinggalkan do’a ini pada akhir shalatmu.

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
_”Ya Allāh, tolonglah aku agar selalu berdzikir mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.”_ (Hadīts shahīh riwayat Abu Daud dan Ahmad)

Sungguh beda sekali cara seperti ini dengan cara orang yang berbicara kepada anak kecil, seakan-akan berbicara kepada anak kecil.

Dia mengatakan, “Hai anak kecil, hai orang bodoh, hai….” Dan lain sebagainya. Kata-kata yang kasar akan membuat hati tertutup dan jiwa akan lari. Sehingga orang yang ingin menggapai predikat sebagai pembuka pintu kebaikan hendaknya menghiasi diri dengan akhlak yang mulia, menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam sendiri telah bersabda:

إنما بُعثتُ لأُتَمِّمَ صالحَ الأخلاقِ
_”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”_

Demikian yang disampaikan oleh syaikh Abdurrazaq Al Badr hafizhahullāhu ta’āla pada kunci ke-8 ini. Yaitu “seseorang memiliki akhlak yang mulia kepada seluruh manusia.”

Ketika berbicara seseorang hendaknya merendah, tidak meninggikan diri sendiri, tidak mengotot, dan akhlak-akhlak buruk lainnya. Hendaknya dia merendah ketika berbicara kepada orang lain. Karena walaupun kebaikan yang kita sampaikan ketika disampaikan dengan cara kasar dan keras, akan membuat jiwa lari dan membuat hati tertutup. Seseorang tidak akan tergerak untuk mengikuti apa yang kita sarankan kepadanya.

Belajarlah menjadi orang yang bisa merendah dihadapan orang lain, walaupun orang yang kita hadapi adalah orang yang sangat banyak kesalahannya (yang sangat bahaya kesalahannya). Tetap harus merendah, apalagi yang kita hadapi adalah masyarakat awam yang mereka ngaji saja terkadang tidak bisa.

Mereka akan melihat yang pertama kali akan melihat kepada akhlak yang menyampaikan, kalau akhlaknya baik dia akan tergerak mengikuti, tapi kalau yang menyampaikan kebenaran akhlaknya tidak baik, orang awam yang kadang membaca Al Qur’ān saja tidak tahu tidak akan tergerak mengikutinya.

Semoga Allāh memudahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dihadapan seluruh manusia.

Wallāhu Ta’āla A’lam bishawab.
وصلى الله على نبينا محمد
________________
BimbinganIslam.com
Rabu, 05 Rajab 1442 H / 17 Februari 2021 M
Ustadz Ratno Abu Muhammad, Lc.
Kitāb Kaifa Takuunu Miftaahan Lil Khoir
Halaqoh 09: Kunci Kedelapan Lemah Lembut Dan Berakhlaq Mulia
———————————————————-​
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH EUROMOSLIM: Buletin Terbit Setiap Hari Jum’at
EUROMOSLIM-AMSTERDAM
Indonesisch-Nederlandsche Moslim Gemeenschap–Amsterdam
Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam, 30 juli 2021 / 20 dhulhijjah 1442
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:
E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org