*MUQADDIMAH*

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيئات أعمالنا ،من يهده الله فلا مضل له، و من يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريكَ له واشهد أن محمدا عبده ورسوله، اللهم صلى و سلم وبارك على نبينا محمد و على آله وأصحابه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين اما بعد

Alhamdulillāh. Ma’āsyiral Ikhwah wa Akhawat Fīdīn Rahimakumullāh.

Ini adalah kajian perdana dari pembahasan kitāb yang sangat bermanfaat, Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية), buah karya Al Imamul Hafizh Abu Zakariyya Yahya ibnu Syaraf An Nawawi Ad Dimasyqi rahimahullāhu ta’āla.

Kajian yang diselenggarakan oleh grup WhatsApp Bimbingan Islām yang semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla menjadikan kajian kitāb ini berkelanjutan, dan menjadi sebab ilmu yang bermanfaat untuk bekal kebaikan bagi kita di dunia dan di akhirat nanti.

Kita memilih kitāb Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية) yang ditulis oleh Imam An Nawawi rahimahullāhu ta’āla, karena (tentu saja) kitāb ini sangat bermanfaat isinya. Kitāb ini dipuji oleh para ulama.

Penulis kitāb ini adalah Imam An Nawawi yang terkenal dengan keilmuan dan pengetahuan beliau yang sangat mendalam tentang Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tentang ilmu Hadīts dan penjelasan yang berhubungan dengan maknanya.
Sehingga kitāb ini (in syā Allāh) isinya bisa
dipertanggungjawabkan. Kitāb ini ditulis dengan ketelitian. Kitāb ini ringkas tetapi maknanya padat dan ditulis dengan bahasa yang sangat mudah untuk dipahami.

In syā Allāh kitāb ini bisa memberikan ilmu yang bermanfaat untuk bekal kebaikan bagi kita dalam memahami dan mengamalkan agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ikhwan wa Akhawat Fīdīn rahimakumullāh.
Tentu saja kita memilih tema tentang sejarah Islām, karena belajar tentang sejarah Islām sangat besar manfaatnya, dalam upaya meningkatkan iman kita kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Menumbuhkan kebaikan-kebaikan dengan meneladani sejarah orang-orang mulia sebelum kita, apalagi Nabi kita yang mulia Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Ketika kita mempelajari sejarah atau peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan akhlak, yang berhubungan dengan kesabaran Beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) dalam berdakwah, dalam menyebarkan Islām.

Makanya di dalam Al Qur’ān, Allāh Subhānahu wa Ta’āla menegaskan di dalam surat Yusuf عليه الصلاة و السلام.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌۭ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَـٰب
_”Sungguh pada kisah-kisah mereka (para nabi) ketika mereka mendakwahi kaumnya, terdapat ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang berakal sehat.”_
(QS. Yusuf: 111)

Terdapat pelajaran, maksudnya terdapat hal yang bisa menjadikan pelajaran untuk meningkatkan iman, menguatkan kesabaran dan untuk mengambil teladan dari kisah-kisah mereka.

Di ayat lain, di dalam surat Hūd.
Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَكُلًّۭا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنۢبَآءِ ٱلرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِۦ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِى هَـٰذِهِ ٱلْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌۭ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
_”Dan semua kisah dari rasul-rasul yang Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu, dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.”_
(QS. Hūd: 120)

Subhānallāh.

Manfaat besar kita mempelajari sejarah adalah menjadikan kita bisa meneladani Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Dengan kisah-kisah ini, Allāh jadikan sebagai peneguh iman bagi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam untuk meneladani nabi-nabi yang terdahulu dalam berdakwah, dalam kesabaran mereka, dalam keteguhan dan kesungguhan mereka dalam menyampaikan agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Ini merupakan teladan kebaikan bagi kita. Juga pelajar dan nasehat untuk meningkatkan keimanan kita, meningkatkan sifat-sifat mulia yang dituntut di dalam Islām untuk selalu (berusaha) memilikinya.

Oleh karena itu, para ulama sangat memberikan perhatian untuk pelajaran sejarah. Bahkan dalam sebuah hadīts atau riwayat yang shahīh dari shahabat yang mulia, Abdullāh bin Mas’ūd radhiyallāhu ‘anhu, dalam Shahīh Muslim.

Beliau mengatakan:

السَّعِيدُ مَن وُعِظَ بغَيْرِهِ، فأتَى رَجُلًا مِن أَصْحَابِ
_”Orang yang beruntung adalah orang yang bisa mengambil nasehat dari kejadian yang menimpa orang lain.”_

Dari peristiwa yang terjadi pada orang lain, dia bisa mengambil teladan (manfaat). Bahkan ini salah satu di antara uslub (metode) pengajaran yang sangat baik, karena sejarah memberikan contoh nyata.
Sejarah memberikan contoh nyata yang akan memotivasi jiwa kita untuk meneladani contoh kebaikan tersebut.

Kita ketahui, ma’āsyiral ikhwah wa akhwat fīdīn rahimakumullāh.

Tabi’at asal manusia adalah suka meneladani (mencontoh). Suka bersama dengan orang-orang yang dianggapnya baik atau dia sering mengetahui sifat-sifat baiknya.
Di dalam hadīts riwayat Al Bukhāri dan Muslim, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda:

الأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ ‏
_”Jiwa manusia seperti rombongan yang selalu bersama (berkumpul) maka yang saling mengenal di antaranya akan dekat (cenderung untuk mendekat) adapun yang saling memusuhi atau tidak menyukai, maka akan saling menjauh.”_

Kalau kita sering mempelajari sejarah, mengenal kebaikan orang-orang yang shalih apalagi Nabi Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, atau para nabi yang lain عليهم الصلاة و السلام, para shahabat radhiyallāhu ‘anhum ajma’īn, menjadikan hati kita dekat dengan mereka dan ingin meneladani kebaikan-kebaikan mereka.

Makanya tidak salah kalau Imam Abu Hanifah rahimahullāhu ta’āla yang dinukil di dalam kitab Jāmi’ Bayān Al ‘Ilmu wa Fadhlih (‏جامع بيان العلم وفضله), beliau pernah mengatakan:

الحكاياتُ عن العلماءِ ومحاسنِهم أحبُّ إليَّ من كثيرٍ من الفقه، لأنها آدابُ القوم و أخلاقهم
_”Hikayat (cerita atau kisah) sejarah para ulama serta penjelasan tentang kebaikan-kebaikan mereka, lebih aku sukai daripada kebanyakan masalah fiqih, karena pada kisah-kisah terdapat adab-adab dan akhlak-akhlak mereka untuk diteladani atau dijadikan panutan.”_

Oleh karena itu, ma’āsyiral ikhwah wa akhwat fīdīn rahimakumullāh.

Kita mempelajari sejarah manfaatnya sangat besar. Dan ingat memahami dan mengenal kebaikan orang-orang shalih apalagi kebaikan Nabi kita Muhammad shallallāhu ‘alayhi wa sallam, merupakan bagian dari upaya mewujudkan semangat kita meneladani Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Yang ini jelas merupakan ciri orang yang beriman.

Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْ ء اخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
_”Sesungguhnya telah ada pada diri Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap rahmat Allāh dan kedatangan hari kiamat.”_ (QS. Al Ahzāb: 21)

Maka hanya orang-orang yang beriman kepada Allāh dan hari akhir yang mempunyai semangat meneladani Sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.
Ini penafsiran dari ayat tadi, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Abdurrahman As Sa’di dalam tafsir beliau, Taisirul Karīmir Rahman Fī Tafsīri Kalāmul Manān.

Oleh karena itu, seorang yang ingin bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang dijanjikan meraih kedudukan di surga nanti, hanya orang-orang yang mencintai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda dalam hadīts yang shahīh:

المرء مع من احب يوم القيامة
_”Seseorang akan dikumpulkan bersama dengan siapa yang dicintainya pada hari kiamat.”_
(HR. Tirmidzi)

Bagaimana kita mencintai Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam, kalau kita tidak mengenal sejarah hidup Beliau, kesabaran Beliau dalam berdakwah, kesungguhan Beliau dalam menyampaikan agama Allāh Subhānahu wa Ta’āla, akhlak mulia Beliau dalam menyikapi para shahabat radhiyallāhu ‘anhum ajma’īn. Bahkan terhadap orang-orang yang menentang dakwah beliau.
Maka ini semua akan kita pelajari dalam sejarah Islām.

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta’āla mudahkan kita untuk mengkaji kitāb yang sangat bermanfaat ini. Dan tentunya kita memohon pertolongan kepada Allāh Subhānahu wa Ta’āla.
Dan in syā Allāh, akan ada kelanjutan dari kajian ini, di halaqah-halaqah atau sesi kajian selanjutnya. Dengan memohon pertolongan dari Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Demikian, untuk sesi kali ini, saya cukupkan. Mohon maaf atas segala yang salah dan kurang.

صلى الله و سلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين
والحمد الله رب العالمين
سبحانك اللهم وبحمدك أشهد إن لا إله إلا أنت استغفرك وأتوب إليك
و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
____________________
BimbinganIslam.com
Rabu, 01 Shafar 1443 H/08 September 2021 M
Ustadz Abdullah Taslim, Lc. MA
Kitāb Tahdzībus Sīratin Nabawiyyah (تهذيب السيرة النبوية)
Halaqah 01: Muqaddimah
———————————————————-​
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH EUROMOSLIM: Buletin Terbit Setiap Hari Jum’at
EUROMOSLIM-AMSTERDAM
Indonesisch-Nederlandsche Moslim Gemeenschap–Amsterdam
Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam, 01oktober 2021 / 24 shafar1443
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:
E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org