السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

والْحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على أله و صحبه ومن ولاه، ولا حول ولا قوة الا بالله، أما بعد

Ma’asyiral musta’mi’in, para pemirsa Bimbingan Islām yang senantiasa dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah halaqah yang kedelapan dalam pembahasan Kitāb صفة الصوم النبي في رمضان – Shifatu Shaum Nabi Fī Ramadhān yaitu tentang Sifat Puasa Nabi Pada BulanRamadhān, karya dua Syaikh yaitu Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid rahimahullāh

Di halaqah kedelapan ini kita akan membahas tentang :

▪︎ Hal-hal Dibolehkan (Mubah) Dilakukan Oleh Orang Yang Berpuasa Di Bulan Ramadhān.

Karena cukup banyak kaum muslimin yang awam, mereka  mengira bahwa perbuatan-perbuatan yang akan kita jelaskan ini membatalkan puasa, padahal hakikatnya tidak.

Hal-hal yang boleh (mubah) dilakukan oleh orang yang sedang berpuasa dan konsekuensinya hal ini tidak membatalkan puasa seseorang juga tidak berdosa.

Diantaranya adalah:

Memasuki Waktu Subuh Dalam Kondisi Junub.

Seseorang bangun kesiangan dalam kondisi junub sehingga dia tidak sahur. Kondisi seperti ini tidak masalah artinya puasanya tetap sah.

Kewajiban dia setelah bangun adalah mandi kemudian shalat subuh dan melanjutkan puasanya.

Hal ini sebagaimana hadīts dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā dan Ummu Salamah radhiyallāhu ‘anhā:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْأَهْلِهِ ثُمَّ يَغْسِلُ وَيَصُوْمُ

_“Sesungguhnya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’dengan isterinya, kemudian beliau mandi dan berpuasa.”_

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri 4/123, Muslim 1109).

Bersiwak

Bersiwak bisa dilakukan kapan pun baik pagi, siang, sore ataumalam hari, dan ini tidak masalah dan tidak membatalkan puasanya dan tidak memakruhkannya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَوْلاَأَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ

_“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudhu.”_ (Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri 2/311, Muslim 252).

Dalam riwayat lain: _”Pada setiap shalat.”_

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam tidak mengkhususkan bersiwak untuk orang yang puasa ataupun yang tidak berpuasa.

Berlaku umum bagi orang yang berpuasa atau tidak pada setiap berwudhu dan shalat maka disunnahkan untuk bersiwak. Kapanpun waktunya baik sebelum tergelincir matahari sebelum dhuhur atau setelahnya maka ini tidak masalah (wallāhu a’lam).

Berkumur dan Beristinsyaq.

Beristinsyaq adalah memasukan air ke dalam hidung ketika berwudhu. Namun ketika dalam keadaan puasa tidak boleh berlebihan ketika Beristinsyaq.

Hukum beristinsyaq ketika tidak dalam kondisi puasa adalah bersungguh-sunggub tetapi jika dalam kondisi puasa harus lebih berhati-hati.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

وَبَالِغْ فِي الْإِسْتِنْشَاقِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ صَائِمًا

_”Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa.”_

(Hadīts shahīh riwayat Tirmidzi 3/146, Abū Daud 2/308, Ahmad 4/32, Ibnu Abi Syaibah 3/101, Ibnu Majah 407, An-Nasaai no. 87 dari Laqith bin Shabrah radhiyallāhu ‘anhu)

Jika sedang berpuasa ketika beristinsyaq sekedarnya saja tidak sampai menghirup dalam-dalam.

Bercumbu Dengan Istri.

Bercumbu atau mencium istri ketika siang hari di bulan Ramadhān. Hal ini tidak masalah dengan syarat bisa mengendalikan syahwatnya.  

Dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā, beliau mengatakan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُ وَيُبَاشِرُ وَهُوَ صَائِمٌوَكَانَ أَمْلَكَكُمْ لأربه

_”Adalah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah mencium dalam keadaan berpuasa dan bercengkrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri.”_ (Hadits Riwayat Al Bukhāri dan Muslim).

Oleh karena itu sebagian ulama ada yang mengatakan ini berlaku bagi orang yang sudah berusia atau berumur, sudah agak tua. Tetapi untuk pengantin baru (masih muda) sebaiknya perbuatan ini ditinggalkan.

Sebagian ulama mengatakan makruh karena nanti kebablasan dan ini berbahaya.

Disuntik.

Disuntik tidak membatalkan puasa kecuali suntikan yang dimaksud adalah infus untuk memasukan makanan ke tubuh pasien. Maka ini tidak boleh karena membatalkan puasa. Tetapi jika sekedar disuntik, diambil darah atau disuntik obat maka ini tidak membatalkan puasa.

Berbekam.

Berbekam dahulu termasuk pembatal puasa, namun kemudian mansukh (dihapus) hukumnya menjadi tidak membatalkan puasa.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau berbekam ketika puasa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu:

احْتَجَمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ صَائِمٌ

_“Sesungguhnya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam berbekam, padahal beliau sedang berpuasa.”_

(Hadīts riwayat Al Bukhāri 4/155-Fath, Lihat Nasikhul Hadīts wa Mansukhuhu 334-338 karya Ibnu Syahin).

Mencicipi Makanan.

Hal ini banyak dilakukan oleh ibu-ibu, sekedar mencicipi saja tanpa ditelan (ini syaratnya), maka ini tidak membatalkan puasa.

Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ‘anhu:

لاَبَأْسَ أَنْ يَسذُوْقَ الْخَلَّ أَوِ الشَّيْءَمَالَمْ يُدخِلْ حَلقَهُ وَهُوَصَائِمٌ

_”Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaan puasa, selama tidak sampai ke tenggorokan.”_

(Hadits hasan riwayat Al Bukhāri secara mu’allaq 4/154-Fath, dimaushulkan Ibnu Abi Syaibah 3/47, Baihaqi 4/261 dari dua jalannya. Lihat Taghliqut Ta’liq 3/151-152)

Menggunakan Celak Mata Atau Tetes Mata.

Menggunakan celak mata atau tetes mata juga tetes telinga tidak masalah ini tidak membatalkan puasa.

Inilah yang dirajīhkan (dikuatkan) oleh Syaikhul Islām Ibnu Taimiyah dan juga murid beliau Imam Ibnu Qayyim dalam kitābnya Zādul Ma’ad, dan juga Imam Bukhāri berkata dalam kitāb Shahīhnya,  beliau menukilkan:

_”Anas bin Malik, Hasan Al-Bashri dan Ibrahim An-Nakha’i memandang, tidak mengapa bagi yang berpuasa menggunakan celak, tetes mata atau tetes telinga.”_

Walaupun mereka merasakan ada sensasi pada tenggorokannya akan tetapi ini tidak masalah.

Mandi Dengan Air Dingin Atau Menuangkan Air Ke Atas Kepala.

Mandi dengan air dingin atau menuang air ke atas kepala dengan tujuan untuk menyegarkan badan, maka ini tidak masalah.

Imam Al Bukhāri membawakan dalam kitāb Shahīhnya Bab: Mandinya Orang Yang Puasa dan disebutkan riwayat bahwa Abdullāh bin Umar membasahi bajunya kemudian dia memakainya ketika dalam keadaan puasa (supaya adem, dingin, maksudnya).

Kemudian Imam As-Sya’bi masuk kamar mandi untuk mandi dalam keadaan puasa.

Al-Hasan berkata: “Tidak mengapa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa”.

Demikian _wallāhu a’lam,_ hal-hal yang dibolehkan dilakukan oleh orang yang berpuasa di siang hari di bulan Ramadhān.

 

صلى الله على النبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SUMBER:

BimbinganIslam.com

Rabu, 02 Ramadhan 1442 H / 14 April 2021 M

Ustadz Arief Budiman, Lc

Kitāb Shifatu Shaum Nabi Fī Ramadhān

Halaqah 08: Hal-hal Yang Boleh Dilakukan oleh Orang Yang Berpuasa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada  Nabi kita Muhammad Shallallahu  Álaihi  Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021

EUROMOSLIM-AMSTERDAM  

Indonesisch-Nederlandsche Moslim GemeenschapAmsterdam

Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam

EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam,  14 april 2021 / 02 ramadhan 1442   

Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:

E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org