السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
والْحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على أله و صحبه و من ولاه، أما بعد

Ma’asyiral muslimin, ma’asyiral musta’mi’in, para pemirsa Bimbingan Islām yang senantiasa dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah halaqah yang kesebelas dalam pembahasan Kitāb صفة الصوم النبي ﷺ في رمضان (Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān), yaitu tentang Sifat Puasa Nabi ﷺ Pada Bulan Ramadhān, karya dua Syaikh yaitu Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid rahimahullāh ta’ala.

Di halaqah kesebelas ini kita akan membahas tentang :

Pembatal-pembatal Puasa

Ada beberapa pembatal puasa, diantaranya adalah:

⑴ Makan dan Minum Dengan Sengaja.
Berdasarkan firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
_”Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”_
(QS. Al Baqarah: 187)

Maksudnya makan dan minum itu dari maghrib sampai fajar (shubuh) kecuali dalam keadaan lupa artinya benar-benar lupa tidak disengaja dalam hal ini puasanya tetap sah dan orang tersebut diperintahkan untuk melanjutkan puasanya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dalam Shahīh Al Bukhāri dan Muslim:

إِذَا نَسِيَ فَأَ كَالَ وَشَرِبَ فَلْيَتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ
_“Jika lupa hingga makan dan minum, hendaklah menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allāh yang memberinya makan dan minum.”_
(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhari 4/135 dan Muslim 1155).

Lupa adalah salah satu udzur syari’ yang dengannya seseorang tidak dikenai hukuman apapun dan ibadahnya tetap sah.

Sebagimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ‘anhu dan hadīts ini shahīh, dalam Sunnan Ibnu Majah, Sunnan Ad Daruquthi dan yang lainnya.

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ وَضَعَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَاً وَالنِّسْيَانَ وَمَا اسْتُكرِهُوا عَلَيْهِ
_“Sesungguhnya Allāh memberi maaf kepada umatku karena kesalahan dan lupa serta apa yang dipaksakan kepada mereka.”_

⑵ Muntah Dengan Sengaja.
Orang yang mual atau karena sesuatu hal akhirnya dia muntah maka ini tidak membatalkan puasanya. Berarti mafhumnya, pemahaman terbaliknya bahwa yang memancing-mancing muntah atau menyengaja memuntahkan diri maka batal puasanya.

Dan hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَليَقْضِ
_“Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha’ puasanya.”_
(Hadīts shahīh riwayat Abu Dawud 2/310, Tirmidzī 3/79, Ibnu Majah 1/536, Ahmad 2/498 dari jalan Hisyam bin Hasan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)

⑶ Haidh dan Nifas.
Jika seorang wanita haidh atau nifas, pada satu bagian siang, baik di awal ataupun di akhirnya, (pagi atau sore hari) maka mereka harus berbuka dan mengqadha’ puasanya.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dari Ibnu Umar dan Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhum.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

أَلَيْسَ إِذَا خَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلنَ : بَلَى: قَالَ : فَذَ لِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا
_“Bukankah jika haidh dia (wanita) tidak shalat dan puasa?” Kami (shahabat wanita) mengatakan, “Ya, Beliau berkata, ‘Itulah (bukti) kurang agamanya’.”
(Hadīts shahīh riwayat Muslim 79, dan 80 dari Ibnu Umar dan Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu).

Apabila telah suci wanita tersebut harus mengqadha di bulan-bulan lain selain bulan Ramadhān sebanyak hari yang dia tinggalkan.

Hadīts Mu’ādzah dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā di dalam Shahīh Al Bukhāri dan Muslim. Mu’ādzah seorang tabi’iyah bertanya kepada Aisyah radhiyallāhu ‘anhā :

مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ
_”Mengapa wanita haidh wajib mengqadha puasa tetapi tidak mengqadha shalat.”_

Kemudian Aisyah menjawab :
أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟
_”Apakah kamu haruriyyah?”_

Haruriyyah adalah suatu negeri kira-kira 2 mil dari Kuffah dan di sana berkumpul orang-orang khawarij.

Dan diantara pemahaman khawarij adalah mereka mewajibkan wanita yang haidh untuk mengqadha shalat.

‘Aisyah radhiyallāhu ‘anhā khawatir kalau Mu’ādzah terkena keyakinan dan pengaruh dari orang-orang khawarij.

Kemudian Mu’ādzah menjawab:
لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ.
_”Saya bukan khawarij akan tetapi saya bertanya.”_

Kemudian Aisyah berkata:
قَالَتْ: «كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ»
_”Di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam kami pun mengalami hal itu. Ketika haidh kami diperintahkan mengganti puasa tapi tidak diperintahkan mengganti shalat.”_
(Hadīts shahīh riwayat Muslim 1/265)

⑷ Suntikan yang Sifatnya Memberikan Gizi Makanan.
Suntikan (infus) yang mengandung makanan yaitu memasukan zat makanan ke dalam tubuh, dengan maksud memberi makan bagi orang sakit. Suntikan seperti ini membatalkan puasa karena diqiyaskan dengan mengenyangkan perut.

Adapun suntik obat tertentu yang bukan zat-zat makanan misalnya disuntik untuk diambil darah, maka ini tidak membatalkan puasa.

⑸ Jima’.
Jima’ (hubungan badan suami istri) di siang hari bulan Ramadhān dengan sengaja adapun jika jima’ tersebut terjadi karena lupa, maka sebagian ahli ilmu menganggapnya sama dengan orang yang makan dan minum dengan tidak sengaja, artinya puasanya tetap sah.

Dan inilah yang disebutkan para ulama diantaranya Ibnul Qayyim dalam kitāb Zaadul Ma’ad, beliau berkata:
والقرآن دال على أن الجماع مفطّر كالأكل والشرب، لا يُعرف فيه خلاف
_”Al Qur’ān menunjukkan bahwa jima’ (hubungan badan) membatalkan puasa seperti halnya makan dan minum, tidak ada perbedaan pendapat akan hal ini.”_
(Kitāb Zaadul Ma’ad 2/66)

Ada satu kisah seorang shahabat yang menggauli istrinya di siang hari Ramadhān kemudian mengadu kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan pilihan kaffarat (nanti pembahasan kaffarat akan kita bahas).

Kaffarat orang yang melakukan jima’ di siang hari bulan Ramadhān membebaskan budak kalau tidak bisa berpuasa dua bulan berturut-turut jika tidak bisa memberi makan kepada 60 orang fakir miskin.

Dan hadīts ini diriwayatkan di dalam Shahīh Al Bukhāri dan Muslim dan yang lainnya.

Demikian para pemirsa hal-hal yang berkaitan dengan pembatal-pembatal puasa.

Wallāhu A’lam b
Bishawab.

صلى الله على النبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SUMBER:
BimbinganIslam.com
Senin, 07 Ramadhān 1442 H/ 19 April 2021 M
Ustadz Arief Budiman, Lc
Kitāb Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān
Halaqah 11: Hal-hal yang Membatalkan Puasa
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021
EUROMOSLIM-AMSTERDAM
Indonesisch-Nederlandsche Moslim Gemeenschap–Amsterdam
Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam, 19 april 2021 / 07 ramadhan 1442
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:
E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org