السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

والْحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على أله و صحبه ومن ولاه، أما بعد

Ma’asyiral musta’mi’in, para pemirsa Bimbingan Islām yang senantiasa dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah halaqah yang ketujuh dalam pembahasan Kitāb صفة الصوم النبي في رمضان – Shifatu Shaum Nabi Fī Ramadhān yaitu tentang Sifat Puasa Nabi Pada Bulan Ramadhān, karya dua Syaikh yaitu Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali dan Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid rahimahullāh ta’ala.

Pada halaqah ketujuh ini kita akan membahas tentang :

Hal-hal Yang Wajib Ditinggalkan oleh Orang Yang Sedang Berpuasa Ramadhān.

Orang yang berpuasa pada hakikatnya dia sedang melakukan ibadah lillāh (karena Allāh Subhānahu wa Ta’āla). Bahkan ia sedang melakukan salah satu rukun Islām yang besar.

Dan orang yang berpuasa dengan hakiki adalah orang yang berpuasa dari berbagai macam perbuatan dosa.

Anggota tubuhnya berpuasa dari hal-hal yang sekiranya mendatangkan murka Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Lisannya berpuasa dari dusta, dari perkataan yang keji dan mungkar atau dari perkataan yang mengundang syahwat. Lisannya berpuasa dari ghibah dari namimah.

Bukan hanya berpuasa dari makan dan minum, tetapi lisan dan anggota tubuh lainnya juga berpuasa dari hal-hal yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla. Kemaluannya berpuasa dari rafats dari hal-hal yang sekiranya dapat mendatangkan syahwat yang haram.

Sehingga ketika seseorang berpuasa, dia tidaklah berbicara kecuali dengan ucapan yang baik dan tidak menyakiti orang lain dan kalaupun dia berbuat (berperilaku) maka perilakunya tidak merusak dan membatalkan shaumnya.

Inilah puasa yang hakiki yang masyru’, bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum dan syahwat jima’ antara suami dan istri, tapi puasa yang hakiki yang sesungguhnya (yang sejati) adalah berpuasa dari semua yang tadi disebutkan yaitu menahan diri dari hal-hal yang Allāh haramkan.

Lisannya berpuasa dari dusta, bohong dan banyak bicara, atau menyakiti orang lain dan anggota tubuh lainnya tidak melakukan maksiat. Sehingga puasanya bernilai pahala besar (pahala sempurna) disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Dan orang yang berpuasa hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, sementara dia masih melakukan hal-hal maksiat walaupun bukan pembatal puasa.

Juga tidak menjaga lisannya seperti tetap berbohong, tetap berdusta, ghibah, namimah mencela dan menyakiti orang. Barangkali puasanya sah tetapi sama sekali tidak bernilai pahala disisi Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Oleh karena itu itu Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

_”Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”_(QS. Al Baqarah: 183).

Inilah target dan tujuan akhir kita, kita  digembleng oleh Allāh selama bulan Ramadhān agar menjadi orang yang bertaqwa.

Karena selama satu bulan kita melatih diri, bukan hanya (puasa) menahan makan dan minum saja, bukan hanya menahan diri dari syahwat bagi suami atau istri di siang hari saja, tetapi melatih diri agar bisa berakhlaq baik (mulia).

Di dalam hadīts juga disebutkan:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ

_”Puasa adalah benteng.”_

Puasa adalah benteng yang bisa membentengi pelakunya dari perbuatan maksiat.

Itulah harapan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam dari puasa kita, sehingga beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

فَلا يَرْفُثْ وَلا يَجْهَلْ.

“Jangan kita berkata-kata rafats (keji, buruk, mungkar, berkata jorok) yang sifatnya bisa membangkitkan syahwat وَلا يَجْهَلْdan jangan berkata bodoh atau berperilaku bodoh”.

Bahkan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengajarkan :

وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ

_”Jika ada orang mengajak berselisih, mencaci maki kalian, maka tahanlah diri kalian dan ucapkanlah ‘sesunguhnya aku sedang berpuasa.'”_

Dan ada dalīl khusus yang menjelaskan kepada kita bahwa orang yang berpuasa wajib meninggalkan perkataan mungkar, perkataan keji dan kotor yang menjurus kepada syahwat di siang hari Ramadhān.  

Tadi yang sudah disebutkan salah satu riwayat dalam shahīh Al-Bukhāri dan Muslim, juga ada  riwayat lain dalam shahīh Ibnu Khuzaimah dan Mustadraq Al Hakim dari Abū Hurairah.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الصِّيَامِ مِنَ الْأَكْلِ الشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ الّغْوِ وَالرَّفَتِ، فَإِنْشَابَكَ أحَدٌ أَوْ جَهَلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنّي صَا ئِمٌ، إِنِّي صَاءِمٌ

_”Puasa bukan sekedar menahan diri dari makan dan minum saja, tetapi puasa itu menahan diri dari perkataan yang sia-sia dan perkataan keji (rafats). Apabila salah seorang dari kalian mencaci atau menghinamu maka katakan, ‘Aku sedang berpuasa, aku sedang berpuasa.'”_(Hadīts shahīh Ibnu Khuzaimah 1996, Al Hakim 1/430-431)

Dan juga ada ancaman yang cukup berat dan keras dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam yang beliau disitu menyebutkan bahwa betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya. Barangkali hanya sekedar penggugurkan kewajiban puasa saja tetapi tidak dapat pahala apapun.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:  

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالْعَطَشُ

_”Berapa banyak orang yang puasa, bagian (yang dipetik) dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata).”_ (Hadīts shahīh riwayat Ibnu Majah 1/539, Darimi 2/211, Ahmad 2/441,373, Baihaqi 4/270   dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu)

Lafadz lengkapnya sebagaimana dalam Musnad Imam Ahmad dan hadīts ini dishahīhkan oleh Syaikh Al-Albanīy rahimahullāhu dalam Shahīh At-Targhīb wa At-Tarhīb, dari Abū Hurairah radhiyallāhu ‘anhu.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda :

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ. وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْقِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ

_”Betapa banyak orang yang berpuasa, dia hanya sekedar mendapatkan dari puasanya lapar dan dahaga dan betapa banyak orang yang melakukan qiyamul lail, dia mendapatkan dari qiyamulailnya itu hanya begadang di malam hari dan bangun di malam hari saja tanpa mendapatkan pahala apapun.”_

Dalam hadīts lain.

Dari Abū Hurairah, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَطَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

_“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allāh tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”_

(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 1903).

Artinya Allāh tidak butuh puasanya. Jadi puasa yang sempurna (yang benar) bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum tapi kita wajib meninggalkan hal-hal yang dapat menggugurkan atau menghilangkan nilai dari pahala puasa itu sendiri, seperti yang sudah disebutkan tadi berupa perkataan bohong, menyakiti orang lain, perbuatan keji, ghibah, namimah dan yang sejenisnya.

Semoga bermanfaat.

صلى الله على النبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

〰〰〰〰〰〰〰

SUMBER:

 BimbinganIslam.com

 Selasa, 01 Ramadhan 1442 H/ 13 April 2021 M

 Ustadz Arief Budiman, Lc

Kitāb Shifatu Shaum Nabi Fī Ramadhān

Halaqah 07:  Hal-hal Yang Wajib Ditinggalkan oleh Orang Yang Berpuasa Ramadhān

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada  Nabi kita Muhammad Shallallahu  Álaihi  Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021

EUROMOSLIM-AMSTERDAM  

Indonesisch-Nederlandsche Moslim GemeenschapAmsterdam

Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam

EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam,  13 april 2021 / 01 ramadhan 1442   

Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:

E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org