السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

والْحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على أله و أصحبه ومن ولاه، ولا حول ولا قوة الا بالله، أما بعد

Ma’asyiral musta’mi’in, para pemirsa Bimbingan Islām rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah yang keempat dalam pembahasan Kitāb: صفة الصوم النبي في رمضان (Shifatu Shaum Nabi Fī Ramadhān), yaitu tentang Sifat Puasa Nabi Pada Bulan Ramadhān, karya dua syaikh, yaitu Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan rahimahullāh.

Kali ini kita akan membahas :

NIAT

Artinya apabila telah ditetapkan (sudah masuk) bulan Ramadhān dengan ru’yatul hilal.

Dilihat langsung hilalnya atau dengan persaksian orang-orang yang melihat hilal yang mereka ditugaskan oleh waliyyul amri, atau dengan cara menyempurnakan bulan Syab’an menjadi 30 hari (apabila hilal di malam ke-30 itu tidak terlihat atau terhalang).

Maka pada saat itu, apabila sudah betul-betul dinyatakan masuk bulan Ramadhān, maka (malam itu) wajib bagi setiap muslim dan muslimah yang mukallaf untuk melakukan tabyītun niyah yaitu meniatkan puasa sejak malam itu (di malam harinya) untuk berpuasa esok hari.

Hal ini berdasarkan hadīts dari Hafshah binti Umar radhiyallāhu ta’ala ‘anhumā di dalam Sunnan Abī Dawud dan yang lainnya dan hadīts ini shahīh sanadnya.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

مَنْ لَمْ يُجْمِعْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلا صِيَامَ لَهُ

_”Barangsiapa yang tidak meniatkan puasa di malam hari (sebelum fajar) maka tidak sah atau tidak ada puasa baginya.”_

Dalam riwayat yang lain.

Dalam Sunnan An Nassā’i, Sunnan Al Baihaqi dan yang lainnya dengan lafazh:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

_”Barangsiapa yang tidak berniat di malam hari (sebelum shubuh) untuk berpuasa (puasa Ramadhān) maka tidak sah atau tidak ada puasa baginya.”_

(Hadīts riwayat An Nassā’i nomor 2333, Ibnu Majah nomor 1700 dan Abū Dawud nomor 2454).

Dan niat yang dimaksud adalah tekad, keinginan kuat dalam hati, sehingga niat ini tidak ada lafazhnya dan tidak dilafazhkan.

Bahkan (jika dilafazhkan) hukumnya adalah menyelisihi sunnah Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaitu bid’ah.

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنًا

_”Setiap bid’ah adalah sesat walaupun orang-orang menganggap itu baik.”_

(As Sunah li Al Marzuku no. 68)

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Umar radhiyallāhu ‘anhu.

Banyak beredar di masyarakat kita lafazh-lafazh niat ketika berpuasa Ramadhān diantaranya seperti:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

Niat ini tidak ada contohnya dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, tidak pula dari para shahabat atau pun para tabi’in.

Dan niat (berniat di malam hari) untuk berpuasa keesokan harinya, hanya berlaku pada puasa-puasa yang hukumnya wajib seperti puasa Ramadhān.

Karena untuk puasa sunnah tidak perlu tabyītun niyah. Artinya selama seseorang dari mulai fajar belum makan atau minum, jika dia ingin berpuasa sunnah, maka silahkan.

Namun khusus puasa wajib (Ramadhān) maka harus dengan tabyītun niyah (berniat di malam harinya). Berniat setiap malamnya atau ada diantara ulama yang membolehkan berniat sejak awal Ramadhān untuk berpuasa Ramadhān satu bulan penuh.

Adapun puasa sunnah tidak butuh tabyītun niyah. Sebagiamana hadīts dari Aisyah radhiyallāhu ‘anhā di dalam Shahīh Muslim.

Beliau (radhiyallāhu ‘anhā) mengatakan:

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah menemuiku pada suatu hari, kemudian Beliau berkata:

هَلْ عِنْدَكُمْ طَعَامٌ

_“Apakah kalian memiliki sesuatu untuk dimakan?”_

فَإِذَا قُلْنَا لاَ قَالَ  إِنِّى صَائِمٌ

_Jika kami menjawab tidak, maka Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata, “Kalau begitu aku puasa.”_ (Hadīts riwayat Muslim nomor 1154).

Ini juga diriwayatkan dari shahabat-shahabat lain  diantaranya dari Abū Darda, Abū Thalhah, Abū Hurairah, Ibnu Abbās, Hudzaifah bin Yaman radhiyallāhu ‘anhum ‘ajmain.

Jadi wajibnya tabyītun niyah sebelum fajar hanya berlaku untuk puasa fardhu (wajib), diantaranya puasa Ramadhān. Adapun untuk puasa sunnah maka tidak perlu tabyītun niyah (tidak masalah).

Dan mengenai pelafazhan niat tidak ada sunnahnya dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dan  tidak ada satu hadīts pun menyebutkan demikian.

Imam Ibnu Al Qayyim di dalam Kitāb Zaadul Ma’ad menjelaskan:

Tidak ada satu hadīts pun yang dinukilkan dari Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita, baik dengan sanad shahīh atau dhaif, baik secara bersambung atau terputus, *tidak ada* satu lafazh pun yang mengatakan bahwasanya Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam melafazhkan niat ketika akan shalat  atau shaum (misalnya).

Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam *tidak pernah* melafazhkan niat.

Baik dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam, dari para shahabat atau pun para tabi’in atau imam yang empat.

Itu penjelasan dari Ibnul Qayyim di dalam Kitāb Zaadul Ma’ad jilid 1 hal 194.

Adapun orang yang misalkan ketiduran ketika bulan Ramadhān sehingga dia tidak sempat sahur (misalnya) maka selama dia tidak makan dan minum dan dia mengetahui bahwa saat itu adalah bulan Ramadhān (karena ketidak sengajaan yaitu ketiduran) maka dia sudah dianggap berniat dan sah shaumnya.

Juga disebutkan di dalam Kitāb: صيام رمضان فضائلهآدابهأحكامهقيامه , yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Jamīl Zainu, beliau mengatakan:

فمن تسحر قبل الفجر فقد نوى

_”Barangsiapa siapa sahur sebelum fajar berarti dia telah berniat.”_

ومن كف ان الاكل و الشرب و المفطرات أثناء النهار مخلصا لله فقدنوى وإن لم يتسحر

_”Barangsiapa menahan diri makan dan minum dan semua hal yang dapat membatalkan puasa di siang hari, ikhlās karena Allāh (niat lillāh shaum Ramadhān) maka dia telah dianggap berniat walaupun dia tidak sahur.”_

Tidak sempat sahur karena ketiduran atau ketidak sengajaan yang lainnya.

Dan beliau (Syaikh Muhammad bin Jamīl Zainu) menjelaskan bahwa:

النيات واجبة في صوم رمضان ويكف صائم ان ينو الصوم فيالقلبه

_”Niat itu wajib dalam puasa Ramadhān dan cukup setiap muslim yang berpuasa berniat dalam hati dan tidak ada dalīl dalam pelafazhannya, baik itu ketika puasa ataupun ibadah-ibadah yang lain.”_

Dan itu berdasarkan sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam :  

إنما الأعمال بالنيات وانما لكل امرئ ما نوى

_”Sesungguhnya amalan itu dianggap benar atau sah dengan niat dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya.”_

(HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

 

Demikian, semoga bermanfaat.

وصلى الله على النبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

〰〰〰〰〰〰〰

SUMBER:

🌍 BimbinganIslam.com

📆 Kamis, 26 Sya’ban 1442 H/ 08 April 2021 M

👤 Ustadz Arief Budiman, Lc

📗 Kitāb Shifatu Shaum Nabi Fī Ramadhān

🔊 Halaqah 04:  Niat Puasa Ramadhān

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada  Nabi kita Muhammad Shallallahu  Álaihi  Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021

EUROMOSLIM-AMSTERDAM  

Indonesisch-Nederlandsche Moslim GemeenschapAmsterdam

Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam

EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam,  09 april 2021 / 27 shaban 1442   

Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:

E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org