السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
والْحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على أله و صحبه و من ولاه، أما بعد

Ma’asyiral muslimim, ma’asyiral
musta’mi’in, para pemirsa Bimbingan Islām yang senantiasa dimuliakan oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

Ini adalah halaqah yang kesembilan dalam pembahasan Kitāb: صفة الصوم النبي ﷺ في رمضان (Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān). yaitu tentang Sifat Puasa Nabi ﷺ Pada Bulan Ramadhān, karya dua Syaikh yaitu Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dan Syaikh Ali Hasan bin Abdul Hamid rahimahullāh ta’ala.

Di halaqah kesembilan ini kita akan membahas tentang:

Orang-Orang Yang Diberikan Rukhshah (kemudahan) Untuk Tidak Berpuasa.

Ada lima golongan, orang-orang yang diberikan rukhshah atau keringanan untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhān.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ
_”Allāh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu,”_
(QS. Al Baqarah: 185)

Diantara orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allāh untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhān, adalah:

⑴ Musafir
⇒ Musafir adalah orang yang sedang safar.

Banyak hadīts dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam membolehkan musafir untuk tidak berpuasa.
Dalam Al Qur’ān, dalam surat Al Baqarah ayat 185 menunjukkan bahwa orang yang safar boleh untuk tidak berpuasa.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
_“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain.”_
(QS. Al Baqarah: 185)

Adapun dalīl hadīts, diantaranya:

Hadīts dari Hamzah bin Amr Al Aslami radhiyallāhu ‘anhu, beliau adalah shahabat yang sering berpuasa. Beliau bertanya kepada Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

أَأَصُومُ فِي السَّفَرِ؟
_“Apakah boleh aku berpuasa dalam safar?”_

Beliau banyak melakukan safar.
Maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنْ شِئْتَ فَصُمْ، وَإِنْ شِئْتَ فَأَفْطِرْ
_“Berpuasalah jika kamu mau dan berbukalah jika kamu mau.”_
(Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri 4/156 dan Muslim 1121).

Berarti di sini Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam memberikan pilihan. Boleh untuk tidak berpuasa bagi orang yang musafir.

Dari Anas bin Malik radhiyallāhu ‘anhu, beliau menceritakan:

سَافِرُت مَعَ رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمْ يَعِبِ الصَّائِمُ عَلَى المُفْطِرِ، وَلَا المُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ
_“Aku pernah melakukan safar bersama Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam di bulan Ramadhān, orang yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang berpuasa.”_ (Hadīts riwayat Al Bukhāri 4/163 dan Muslim 1118).

Hadīts ini memberikan satu keterangan adanya pilihan bagi orang yang safar untuk tidak berpuasa. Walaupun ada juga hadīts-hadīts yang menjelaskan bahwa Allāh Subhānahu wa Ta’āla suka jika rukhshah dilakukan oleh hamba-hamba-Nya.

Sebagaimana hadīts dari Abdullāh bin Umar, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتِى رُخْصَهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتِى مَعْصِيَتَهُ
_”Sesungguhnya Allāh menyukai didatanginya rukhsah yang diberikan, sebagaimana Dia membenci orang yang melakukan maksiat.”_
(Hadīts shahīh riwayat Ahmad 2/108, Ibnu Hibban 2742)

Berarti terdapat dua macam dalīl yang sifatnya memberikan pilihan dan dalīl yang sifatnya menegaskan bahwa sebaiknya mengambil rukhshah.

Namun juga ada dalīl seperti dari Abū Said Al Khudri radhiyallāhu ta’ala ‘anhu dalam Jamī At Tirmidzī dan yang lainnya dan sanadnya shahīh.

Beliau menjelaskan:

فَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مَنْ وَجَدَ قُوَّةً فَصَامَ فَحَسَنٌ وَمَنْ وَجَدَ ضَعْفًا فَأَفْطَرَ فَحَسَنٌ
_“Para shahabat berpendapat barangsiapa yang merasa kuat kemudian puasa (maka) itu baik (baginya), dan barangsiapa yang merasa lemah kemudian berbuka (maka) itu baik (baginya).”_ (Hadīts shahīh riwayat AtTirmidzī nomor 713)

Disini dijelaskan bahwa orang yang safar kemudian dia berpuasa dan puasanya tidak masalah (kuat) maka silahkan berpuasa dan ini baik baginya bagus). Tetapi kalau ternyata ketika safar kemudian dia memaksakan diri berpuasa dan akhirnya lemah dan kesulitan dalam safarnya maka sebaiknya dia berbuka.

Abū Said Al Khudri radhiyallāhu ‘anhu, mengatakan:

فَكَانُوا يَرَوْنَ أَنَّهُ مَنْ وَجَدَ قُوَّةً فَصَامَ فَحَسَنٌ
_”Para shahabat menganggap bahwasanya orang yang mendapatkan kekuatan pada dirinya ketika safar dan dia tetap berpuasa maka ini baik baginya. Namun bagi orang mendapatkan atau merasakan kelemahan ketika safar kemudian dia berpuasa maka itu baik baginya.”_

Dan ingat !

Jika seseorang memaksakan diri untuk berpuasa ketika safar sehingga dia lemah dan menyulitkan yang lain, maka ini tidak baik (tercela) dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam pun melarangnya.
Sebagaimana sabda Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَيْسَ مِنَ الْبَرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ
_“Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar.”_
(Hadīts riwayat Al Bukhāri 4/161 dan Muslim 1110 dari Jabir radhiyallāhu ‘anhu).

Bukan termasuk kebaikan jika berpuasa ketika safar, maksudnya kalau dia sampai lemah dan menyulitkan. Karena ada kisah tentang hadīts ini ketika itu ada seorang shahabat yang
pingsan lalu dikerumuni oleh shahabat yang lain dan merekat menolongnya. Intinya kejadian ini menyulitkan shahabat yang lain yang safar bersamanya.

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam:

لَيْسَ مِنَ الْبَرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ
_“Bukanlah suatu kebajikan melakukan puasa dalam safar._

Maksudnya apabila safar bisa menyulitkan dirinya dan menjadikan dirinya lemah.

⑵ Orang Yang Sakit.
Sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ
_“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu, pada hari yang lain.”_
(QS. Al Baqarah: 185)

Dan tentunya penyakit yang dimaksud adalah penyakit yang apabila dia berpuasa maka penyakitnya akan membuat dia lemah dan membawa mudharat baginya atau memperlambat kesembuhannya atau menambah penyakitnya.

Maka dibolehkan baginya untuk tidak berpuasa kemudian dihari lain setelah bulan Ramadhān dia harus mengqadhanya.

⑶ Waniat Haidh Dan Nifas.
Wanita yang haidh dan nifas tidak diperbolehkan untuk berpuasa seandainya dia berpuasa maka puasanya tidak sah dan dia berdosa. Karena dia beribadah di waktu yang tidak boleh dilakukan (ketika haidh dan nifas).

⑷ Orang Tua (Kakek atau Nenek) Yang Sudah Lanjut Usia.
Kakek atau nenek yang sudah lemah boleh untuk tidak berpuasa namun karena dia lemah maka dia tidak wajib untuk mengqadhanya, tetapi dia wajib mengganti dengan fidyah.

Hal ini sebagaimana firman Allāh Subhānahu wa Ta’āla:

وَعَلَى ٱلَّذِينَ يُطِيقُونَهُۥ فِدۡيَةٞ طَعَامُ مِسۡكِينٖۖ
_”Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.”_ (QS. Al Baqarah: 184)

Jadi disini kakek atau nenek kalau lemah dan dia tidak sanggup berpuasa maka dia membayar atau mengeluarkan fidyah.

Ibnu Abbās radhiyallāhu ‘anhu berkata:

الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لاَ يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا، فَلْيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
_”Kakek dan nenek yang lanjut usia, yang tidak mampu puasa harus memberi makan setiap harinya seorang miskin.”_ (Hadīts shahīh riwayat Al Bukhāri nomor 4505).

Dalam riwayat lain.
Dari Ibnu Abbās radhiyallāhu ‘anhu beliau mengatakan:

ويطعم عن كل يوم مسكينا نصف صاع من حنطة
_“Yakni lelaki tua yang tidak mampu puasa dan kemudian berbuka, harus memberi makan seorang miskin setiap harinya 1/2 shā’ gandum (sekitar 1,5 kg).”_

Jika memberikan fidyahnya dalam bentuk makanan mentah maka setiap hari memberi makan seorang miskin 1/2 shā’ atau 1,5 Kg gandum dan diantara para ulama ada yang membolehkan satu porsi makanan untuk satu orang fakir miskin.

Kalau jenis gandumnya biasa 1/2 shā’ (1,5 Kg) tetapi kalau jenis gandum yang bagus maka cukup 1 mud atau 1/4 shā’ atau 7,5 Ons (3/4 Kg).

Demikian pula yang dilakukan oleh Anas bin Mālik sebagaimana diriwayatkan oleh Ad Daruquthi dengan sanad yang shahīh. Ketika dimasa tua beliau, beliau lemah sehingga beliau tidak mampu berpuasa kemudian beliau membuat satu nampan besar tsarid (kurma yang sudah dicampur dengan gandum) makanan yang lezat di zaman Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam lalu beliau memanggil 30 orang miskin dan mereka semua kenyang.

⑸ Wanita Hamil dan Wanita Menyusui.
Jika wanita hamil atau menyusui berpuasa dan membuat mereka lemah maka boleh untuk tidak berpuasa.

Jika dia mampu untuk mengqadha puasa yang dia tinggalkan maka dia bisa melakukan dihari lain di luar Ramadhān, akan tetapi jika dia tidak mampu untuk mengqadha karena kelemahannya maka dia wajib membayar fidyah seperti yang dijelaskan di atas pada poin ke-4.

Dan ada satu hadīts dari Anas bin Mālik Al Ka’bi (bukan Anas bin Mālik Al Anshary) beliau berkata:

وعن الحامل و المرضع الصوم – أوالصيام

_”Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan bahwasanya wanita hamil dan menyusui, Allāh Subhānahu wa Ta’āla telah menggugurkan bagi mereka kewajiban berpuasa dan mengganti pada hari yang lain atau jika tidak mampu maka dia harus membayar fidyah yaitu memberi makan seorang miskin.”_
(Hadīts hasan riwayat At Tirmidzī nomor 715, An Nassā’i 4/180, Abū Daud nomor 3408, Ibnu Majah nomor 16687).

Itulah lima golongan orang yang mendapatkan keringanan atau rukhsah, boleh tidaknya berpuasa di bulan Ramadhān dan tentunya ada kewajiban untuk mengqadha bagi yang diharuskan mengqadha seperti wanita yang haidh atau nifas.

Dan ada yang diberi kemudahan bila tidak mampu untuk mengqadha dengan membayar fidyah seperti orang yang sudah lanjut usia.

Sedangkan wanita hamil dan orang yang sakit maka dilihat. Jika sekiranya dia mampu untuk mengqadha maka dia harus mengqadha.

Bagi orang sakit, jika penyakitnya membuat dia selalu lemah dan penyakitnya semakin parah atau bagi wanita yang hamil dari tahun ke tahun selalu hamil dan menyusui, maka mereka boleh tidak mengqadha tetapi mereka wajib mengeluarkan fidyah.

Demikian. Wallāhu A’lam.
صلى الله على النبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SUMBER:
BimbinganIslam.com
Kamis, 03 Ramadhān 1442 H/ 15 April 2021 M
Ustadz Arief Budiman, Lc
Kitāb Shifatu Shaum Nabi ﷺ Fī Ramadhān
Halaqah 09: Orang-orang Yang Diberikan Rukhshah atau Kemudahan Untuk Tidak Berpuasa
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021
EUROMOSLIM-AMSTERDAM
Indonesisch-Nederlandsche Moslim Gemeenschap–Amsterdam
Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam, 15 april 2021 / 03 ramadhan 1442
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:
E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org