السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه و من ولاه، اما بعد

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Diantara sunnah yang dianjurkan pada hari Iedul Fithri adalah memperbanyak takbir, hal ini merupakan sebuah perintah yang Allāh Subhānahu wa Ta’āla perintahkan kepada kita dan Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam contohkan bagi kita.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
_”Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangan dan hendaklah kamu mengagungkan Allāh atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu dan agar kamu bersyukur.”_
(QS. Al Baqarah: 185)

Dan Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila Beliau keluar dari rumahnya menuju tempat shalat Iedul Fithri maupun Iedul Adha, maka Beliau bertakbir hingga sampai di tempat shalat. Dan apabila Beliau telah selesai shalat maka beliau berhenti bertakbir.

Beliau bertakbir dan mengangkat suara, agar terdengar oleh orang-orang sekitar (bertakbir di hari Ied). Maka bertakbir di hari Iedul Fithri merupakan sebuah amalan yang disunnahkan oleh Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam kepada kita.

Adapun waktu bertakbir tersebut maka pada hari Iedul Fithri, waktu disyari’atkannya bertakbir adalah sejak terbenamnya matahari di malam Iedul Fithri yaitu dengan berakhirnya bulan Ramadhān maka disunnahkan untuk mulai bertakbir

Adapun akhir dari waktu bertakbir tersebut, telah disebutkan oleh para ulama yaitu waktunya hingga seorang atau kaum muslimin selesai dari mengerjakan shalat Iedul Fithri.

Hal ini sebagaimana yang tadi kita sebutkan dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam bahwasanya Beliau selesai dari takbir tatkala sudah selesai dari melaksanakan shalat Iedul Fithri kemudian Beliau berkhutbah.

Kaum muslimin dan muslimat rahīmani wa rahīmakumullāh.

Kemudian di dalam takbir pada hari Iedul Fithri maka para ulama menjelaskan bahwasanya tidak ada bentuk takbir muqayyad setelah shalat di dalam takbir pada hari Iedul Fithri. Berbeda halnya dengan takbir yang ada pada hari Iedul Adha, di mana para ulama menyebutkan adanya takbir muqayyad, yaitu takbir yang khusus dilakukan setelah selesai shalat wajib.

Adapun pada hari Iedul Fithri maka waktu bertakbir sudah selesai dengan berakhirnya pelaksana shalat Iedul Fithri.

Dan ini merupakan cara yang harus ketahui yaitu pada hari Iedul Fithri bertakbir di kapan waktu saja sejak terbenamnya matahari di malam Iedul Fithri hingga pelaksanaan shalat Iedul Fithri itu sendiri.

Ini diistilahkan oleh para ulama sebagai takbir mutlak (takbir yang tidak terikat waktunya dengan waktu tersendiri dibeberapa waktu). Wallāhu Ta’āla A’lam.

Demikian penjelasan yang bisa kita bahas pada kesempatan halaqah kali ini, terkait dengan sunnah bertakbir di hari Iedul Fithri.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم
والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

SUMBER:
BimbinganIslam.com
Jum’at, 25 Ramadhān 1442 H/ 07 Mei 2021 M Ustadz Riki Kaptamto, Lc
Kitāb Ahkāmul ‘Idaini Fis Sunnatil Muthahharah (Meneladani Rasūlullāh ﷺ Dalam Berpuasa dan Berhari Raya)
Halaqah 08: Takbir untuk Iedul Fithri dan Iedul Adha
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu Álaihi Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021
EUROMOSLIM-AMSTERDAM
Indonesisch-Nederlandsche Moslim Gemeenschap–Amsterdam
Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam
EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam, 07 mei 2021 / 25 ramadhan 1442
Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:
E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org