السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

والْحمد لله والصلاة والسلام على رسول لله و على أله و صحبه ومن ولاه، أما بعد

Para pemirsa Bimbingan Islām rahīmaniy wa rahīmakumullāh.

Ini adalah halaqah yang kelima dalam pembahasan Kitāb: صفة الصوم النبي في رمضان (Shifatu Shaum Nabi FīRamadhān), yaitu tentang Sifat Puasa Nabi Pada Bulan Ramadhān, karya fadhilatus Syaikh Salim bin Ied Al Hilali dan fadhilatus Syaikh Ali Hasan bin Al Halabi rahimahullāh ta’ala.

Di halaqah kelima ini kita akan membahas tentang:

WAKTU PUASA

Waktu puasa artinya dari kapan sampai kapan.

In syā Allāh, kita semua sudah tahu dan paham waktu puasa adalah dari terbit fajar shadiq (fajar yang kedua) sampai terbenamnya matahari (waktu maghrib).

Disini kita akan menjelaskan asal mulanya bagaimana para shahabat radhiyallāhu ‘anhum dahulu berpuasa.

Dalam Shahīh Al Bukhāri dari Al Bara’ bin Azib radhiyallāhu ‘anhu, ia menceritakan:

Dahulu para shahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam apabila berpuasa dan tiba waktu berbuka, jika tidur sebelum berbuka, maka tidak diperbolehkan makan pada malam tersebut, dan ia harus berpuasa hingga keesokan harinya (sampai sore).

Dan ini terjadi pada shahabat yang mulia yaitu Qais bin Shirmah Al Anshary radhiyallāhu ta’ala ‘anhu. Beliau (Qais bin Shirmah Al Anshary) berpuasa Ramadhān, ketika tiba waktu ifthar (maghrib) beliau mendatangi istrinya dan  bertanya:  

أعندك طاعم

_”Apakah engkau mempunyai makanan?”_

Istrinya menjawab:

ولكن اطلب

_”Tidak, namun aku akan pergi mencarikan untukmu.”_

Pada hari itu Qais bin Shirmah Al Anshary bekerja sangat keras sehingga beliau lelah sehingga beliau tertidur.

Ketika istrinya kembali dari mencari makanan, lalu melihatnya tertidur, istrinya mengatakan, “Khaibah untukmu (merugikan kamu).”

Karena para shahabat beranggapan (termasuk Umar bin Khaththāb) makan dan minum itu harus langsung ketika ifthar tidak boleh diselingi dengan tidur. Kalau seseorang tertidur, ketika dia bangun dia tidak boleh makan, minum dan menggauli istri.

Diceritakan Qais bin Shirmah Al Anshary ini ketika menunggu istrinya mencari (membawakan) makanan, beliau tertidur. Sehingga beliau betul-betul belum makan apa-apa sampai keesokan hari.

Keesokan harinya (siang hari) Qais bin Shirmah Al Anshary jatuh pingsan. Kemudian keadaan

Qais bin Shirmah Al Anshary diceritakan kepada Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Maka turunlah surat Al Baqarah ayat 187.

Jadi dahulu asal puasa yang berlaku pada shahabat radhiyallāhu ‘anhu adalah seperti itu.

Seseorang, ketika datang waktu maghrib dia harus langsung makan dan minum, apabila dia tertidur. Maka ketika dia bangun, dia tidak boleh makan, minum, menggauli istri dan dia harus langsung menyambung dengan puasa untuk hari berikutnya.

Umar bin Khaththāb juga pernah mengalami kejadian seperti itu. Setelah bangun tidur beliau  mengauli istrinya kemudian beliau mendatangi Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Banyak riwayat di dalam kitab-kitab tafsir tentang sebab turunnya ayat ini. Dan disini penulis membawakan riwayat Al Bukhāri dari Al Bara’ bin Azib radhiyallāhu ‘anhu.

Alhamdulillāh, turun surat Al Baqarah ayat 187, yang bunyinya:

أُحِلَّ لَكُمۡ لَيۡلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمۡۚ….

_”Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan Ramadhān untuk bercampur dengan isteri kalian.”_

Jadi tidak harus sebelum tidur.

Jadi malam hari dari maghrib sampai shubuh (fajar shadiq) bebas, maksudnya apa-apa yang dihalalkan di bulan-bulan lain selain Ramadhān maka dihalalkan juga dilakukan di bulan Ramadhān (jima’, contohnya).

هُنَّ لِبَاسٞ لَّكُمۡ وَأَنتُمۡ لِبَاسٞ لَّهُنَّ

_”Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka.”_

عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمۡ كُنتُمۡ تَخۡتَانُونَ أَنفُسَكُمۡ فَتَابَ عَلَيۡكُمۡ وَعَفَا عَنكُمۡۖ

_“Allāh mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima taubatmu dan memaafkan kamu.”_

فَٱلۡـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبۡتَغُواْ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ

_”Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allāh bagimu.”_

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِمِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ

_”Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar.”_

ثُمَّ أَتِمُّواْ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيۡلِۚ

_”Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam.“_

وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمۡ عَٰكِفُونَ فِي ٱلۡمَسَٰجِدِۗ

_”Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri’tikaf dalam masjid.”_

تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقۡرَبُوهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمۡيَتَّقُونَ

_”Itulah ketentuan Allāh, maka janganlah kamumendekatinya. Demikianlah Allāh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”_

(QS. Al Baqarah :187)

Tentang firman Allāh yang berbunyi:

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِمِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ

_”Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar.”_

Ayat ini pun memiliki kisah (ada peristiwanya) sebagaimana dijelaskan di dalam Shahīh Al Bukhāri dan Muslim.

Dari Adi bin Hattim radhiyallāhu ‘anhu, berkata ketika turun ayat:

حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِ مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ

_”Sehingga terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar.”_

Aku (Adi bin Hattim) mengambil dua iqal (benang atau tali) yang berwarna hitam dan putih, dan meletakkan di bawah bantalnya. Kalau malam aku terus melihatnya hingga jelas bagiku. Pagi harinya aku pergi menemui Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan menceritakan kepadanya perbuatanku ini.

Kemudian Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjelaskan:

إنما ذلك سواد الليل و بياض النهار

_”Sesungguhnya maksud ayat tersebut adalah hitamnya malam dan putihnya siang.”_

Jadi batasan waktunya adalah dari maghrib sampai shubuh (fajar shadiq).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata:

Ketika turun ayat,

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلۡخَيۡطُ ٱلۡأَبۡيَضُ مِنَ ٱلۡخَيۡطِ ٱلۡأَسۡوَدِمِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ

_”Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar.”_

Ada seorang pria jika ingin puasa, ia mengikatkan benang hitam dan putih di kakinya, kemudian dia terus makan dan minum hingga jelas dalam melihat kedua benang tersebut.

Kemudian Allāh Subhānahu wa Ta’āla menurunkan ayat:

مِنَ ٱلۡفَجۡرِۖ

_”Karena terbitnya fajar.”_

Mereka akhirnya tahu yang dimaksud adalah hitam (gelapnya) malam dan terangnya (putihnya) siang.

(Hadīts riwayat Al Bukhāri dan Muslim)

Jadi jelas batasan orang berbuka (ifthar) diawali dengan maghrib (terbenam matahari) hingga waktu fajar.

Kita harus pahami juga bahwa fajar itu ada dua macam:

Fajar awal.

Fajar shadiq (fajar yang kedua).

Fajar pertama (fajar kadzib) menurut para ulama bahkan ada riwayat dari Ibnu Abbās mengatakan:

لا يحل الصلاة  ولا يحرم الطعام

_”Tidak menghalalkan shalat shubuh dan tidak mengharamkan makanan.”_

Artinya belum waktunya shalat shubuh dan masih diperbolehkan makan dan minum.

Tanda fajar awal (fajar kadzib) kalau kita melihat ke langit disebutkan dalam kitāb yaitu warna putih yang memanjang seperti ekor serigala. Kalau diukur dengan waktu atau jam kalau waktu shalat shubuh 4.30 (misalnya) maka fajar awalnya jam 3 atau 3.30.

Fajar kedua (fajar shadiq) adalah yang mengharamkan makan bagi yang akan berpuasa dan sudah halal (masuk) waktu shalat shubuh.

Oleh karena itu Ibnu Abbās menjelaskannya, Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

اَلْفَجْرُ فَجْرَانِ : فَأَمَّا الْأَوَّلُ فَإِنَّهُ لاَيُحَرِّمُ الطَّعَامَ وَلاَ يُحِلُّ الصَّلاَةُ،وَأَمَّا الثَّانِي، فَإِنَّهُ يُحَرِّمُ الطَّعَامَ، ويُحِلّ الصَّلاَة

_”Fajar itu ada dua: yang pertama tidak mengharamkan makan (bagi yang puasa), tidak halal shalat ketika itu. Yang kedua mengharamkan makan dan telah dibolehkan shalat ketika terbit fajar tersebut.”_ (Hadīts riwayat Ibnu Khuzaimah 3/210)

Jadi waktu puasa itu dari fajar shadiq (shubuh) sampai waktu maghrib (terbenam matahari) dan boleh berbuka dari terbenam matahari sampai waktu shubuh.

 

Demikian. Wallāhu A’lam bishawab.

صلى الله على النبيا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

〰〰〰〰〰〰〰

SUMBER:

🌍 BimbinganIslam.com

📆 Jum’at, 27 Sya’ban 1442 H/ 09 April 2021 M

👤 Ustadz Arief Budiman, Lc

📗 Kitāb Shifatu Shaum Nabi Fī Ramadhān

🔊 Halaqah 05: Waktu Puasa

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk amal yang dicintai dan diridhai-Nya. Shalawat dan salam semoga juga dilimpahkan Allah kepada  Nabi kita Muhammad Shallallahu  Álaihi  Wasallam, segenap keluarga dan para sahabatnya.

MEDIA DAKWAH : Edisi Khusus Ramadhan 1442-2021

EUROMOSLIM-AMSTERDAM  

Indonesisch-Nederlandsche Moslim GemeenschapAmsterdam

Organisasi Keluarga Muslim Indonesia-Belanda di Amsterdam

EKINGENSTRAAT 3-7, AMSTERDAM-OSDORP

Amsterdam,  10 april 2021 / 28 shaban 1442   

Saran, komentar dan sanggahan atas artikel diatas kirim ke:

E-mail: Euromoslim-Amsterdam: media@euromoslim.org